Monday, December 7, 2009

Penilian Tegakan Tanaman Hutan Industri

PENILAIAN TEGAKAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI

Pendahuluan

Pengelolaan hutan selalu ditujukan untuk mendapatkan manfaat optimum. Memahami manfaat hutan, mengandung arti harus dilakukannya penilaian terhadap semua jenis manfaat yang dapat dihasilkan oleh hutan tersebut, baik yang bersifat manfaat nyata (tangible) maupun tidak nyata (intangible). Ekosistem hutan memiliki banyak unsur dengan hubungan yang komplek, sehingga di dalam kerangka penilaian hutan dibuat suatu klasifikasi sumber manfaat menurut pendekatan ekosistem yang terdiri atas empat kelas, yaitu (1) flora, (2) fauna, (3) fungsi ekosistem, dan (4) sosial budaya. Manfaat yang bersumber dari empat hal tersebut dapat berwujud (a) barang hasil hutan, (b) jasa dan fungsi ekologis, dan (c) simbolik atau atribut.

Sedangkan tata nilai hutan mengacu kepada perkembangan mutakhir saat kini, yang disusun menurut klasifikasi jenis nilai sebagai berikut:

a. Nilai guna (use value) yang terdiri atas:

- Nilai guna langsung

- Nilai guna tidak langsung

b. Nilai pilihan masa akan datang (option value)

c. Nilai keberadaan (existence value)

Jenis manfaat penggunaan langsung dikelompokkan atas (1) bahan baku industri, (2) bahan bangunan, (3) sumber energi, (4) pangan (makanan), (5) obat, (6) hiasan dan peliharaan, air (7) air konsumsi rumah tangga. Khusus untuk Hutan Tanaman Industri (HTI), penilaian dilakukan terhadap tegakan pohon sebagai bahan baku industri.

Nilai tegakan sangat berguna dan diperlukan dalam pengusahaan hutan sebagai suatu kegiatan ekonomi yang ditetapkan melalui proses penetapan yang disebut penilaian hutan (forest appraisal)

II. TAHAP PENILAIAN HUTAN

Penilaian hutan, termasuk HTI, melalui dua tahap, yaitu: (1) tahap kuantifikasi biofisik, dan (b) penilaiane konomi terhadap kuantifikasi biofisik yang telah dihitung.

2.1. Tahap Kuantifikasi Biofisik

Kegiatan dalam tahap kuantifikasi biofisik meliputi (1) kuantifikasi potensi produksi ataupun tingkat pemanfaatan oleh perusahaan HPHTI atau masyarakat terhadap flora dan fauna yang manfaatnya diperoleh melalui manfaat langsung, (2) kuantifikasi setiap komponen yang bersumber dari fungsi ekosistem hutan pada unit contoh, dan (3) identifikasi interaksi hutan dengan kehidupan sosial budaya masyarakat yang berwujud / sifat atribut atau simbolik.

Seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya, penilaian tegakan untuk HTI hanya pada kuantifikasi potensi produksi, yakni berupa volume kayu yang dihasilkan. Selain kuantifikasi potensi, adakalanya juga dilakukan pengkuran terhadap kondisi lahan/tapak untuk mendapatkan nilai harapan lahan (SEV: soil expectation value). Namun, secara umum penghitungan SEV untuk HPH/HPHTI tidak dilakukan/tidak diukur, karena dalam konsesi HPH/HPHTI lahan tidak bisa diagunkan.

Volume tegakan didapatkan dengan melakukan pengukuran terhadap diameter pohon (dbh) dan tinggi (tinggi total/tt dan tinggi bebas cabang/tbc) pohon di lapangan. Peralatan yang dibutuhkan untuk pengukuran dimeter pohon dan tinggi adalah: (1) dimeter-tape, dan (2) haga hypsometer. Jika tersedia tabel volume untuk jenis yang sama, maka perhitungan voleme pohon yang dikur dapat langsung menggunakan tabel volume tersebut, namun jika tabel volume tidak tersedia, maka perhitungan volume tegakan dilakukan dengan menggunakan rumus:

Vol (m3) = ¼ Π x dbh2 x t x a
Ket.:
dbh = diameter pohon (cm)
t = tinggi batang komersial (bisa menggunakan tt atau tbc tergantung penggunaan) (m)
a = faktor bentuk jenis

Pengukuran terhadap kondisi lahan/tapak, jika diperlukan, untuk mendapatkan nilai lahan maka data yang dikumpulkan meliputi (a) nilai bersih yang diterima pada akhir rotasi, (b) umur rotasi jenis, dan (c) tingkat bunga. Nilai harapan lahan (SEV) dapat dihitung dengan menggunakan formulasi sebagai berikut:

SEV = a
(1 + i)w - 1
Ket.
a = nilai bersih yang diterima pada akhir rotasi(Rp/vol)
w = umur rotasi jenis (th)
i = tingkat suku bunga (%)

Pengukuran volume pohon dan kondisi lahan/tapak tidak perlu dilakukan pada semua pohon, namun cukup dengan mengukur pada beberapa pohon contoh (teknik sampling). Penentuan pohon contoh dan kondisi lahan/tapak dilakukan dengan memperhatikan keterwakilan terhadap (a) jenis, (b) kelas umur, dan (c) topografi. Teknik sampling yang bisa digunakan antara lain adalah random, systematik, stratified, atau cluster tergantung tingkat keakuratan (validitas) data yang ingin dicapai yang sangat dipengaruhi oleh biaya, waktu dan tenaga kerja. Bahan dan alat yang digunakan dalam teknik sampling antara lain adalah:

1. Peta lokasi, Peta vegetasi dan atau Potret Udara

2. GPS

3. Kompas

4. Patok

5. Tambang

6. Meteran

7. Abney level atau lainnya (alat pengukur lahan)

2.2. Tahap Penilaian Ekonomi terhadap Kuantifikasi Biofisik yang Telah Dihitung / Penghitungan Nilai Tegakan

Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya suatu nilai tegakan (NT / SV = stumpage value) adalah (a) jenis pohon, kualita, ukuran dan kerapatan tegakan, (b) accessibility (kemudahan untuk mencapai), (c) permintaan, (d) bentuk penjualan, dan (e) jangka waktu penjualan.


III. METODE PENILAIN HUTAN

Sistem perhitungan yang lazim dipakai dalam penentuan NT ada tiga metode, yaitu (a) metoda harga pasar, (b) metoda nilai dalam produksi / nilai sisa turunan dan (c) metoda atas dasar biaya (metoda historis) (conversion approach).

3.1. Metoda Harga Pasar

Metoda harga pasar yang lazim digunakan adalah pendugaan pasar melalui model ekonometrika (oleh Davis dan Johnson (1987): Metoda Fakta Pasar). Metoda pendugaan pasar merupakan penilaian tegakan atas dasar perbandingan dengan harga (nilai) pasar tegakan di tempat lain yang relatif sama kondisinya. Pada kenyataannya sangat sulit untuk memperoleh kondisi yang sama betul, sehingga dilakukan pendugaan nilai tersebut berdasarkan variabel yang secara teoritis dan empiris berpengaruh terhadap pemasaran kayu (tegakan), yaitu harga jual. Pembentukan model regresi sebagai berikut:

Y = α + β1X1 + β2X2 + ... + βnXn
Y = nilai tegakan
X = variabel yang berpengaruh terhadap pemasaran, seperti harga jual, jarak angkut hasil hutan (dari hutan sampai tempat penjualan), diampohon rata-rata, kerapatan tegakan, jumah jenis komersial, peubah boneka (seperti tipe hutan: rawa atau tanah kering), sistem pemanenan (traktor atau sistem kabel), kondisi jalan (jalan angkutan darat atau sungai), kondisi jalan hutan (diperkeras atau tidak), hutan tanaman atau
eter
hutan alam, sistem tebang pilih, jalur atau tebang habis)

Keuntungan penilaian tegakan menggunakan persamaan regresi adalah lebih mudah, yaitu adanya penggunaan peubah/variabel yang mudah diukur dan data peubah relatif mudah diperoleh, tidak sangat btergantung pada data finansial (keuangan) yang relatif terbatas. Kelemahannya karena tentunya mendapatkan nilai rata-rata dari berbagai kondisi, tidak spesifik lokasi hutan yang dinilai. Pengembanganteknik penilaian dengan menggunakan regresi ini belum dilakukan di Indonesia, karena keterbatasan data yang menyangkut data urut waktu (time series).


3.2. Metoda Nilai dalam Produksi / Nilai Sisa Turunan

Astana (1982) merumuskan NT sebagai harga jual produk dikurangi dengan total biaya pemanenan, pengolahan, penyusutan, dan batas keuntungan dan resiko sebagaimana dijabarkan dibawa ini:

SV = Sp – (Lc + Mc + D) – M
M = PR x Sp
1 + PR
Ket.
SV = Nilai tegakan (Rp/m3)
Sp = Harga jual produk (Rp/m3)
Lc = Biaya pemanenan (Rp/m3)
Mc = Biaya pengolahan (industri) (Rp/m3)
D = penyusutan (Rp/m3)
M = batas keuntungan dan resiko usaha (Rp/m3)
PR = profit ratio

Handadhari, T (1990) dalam IPB (1996) menggunakan rumus untuk menghitung NT sebagai berikut:

Si = (Pi x Vi) – Ci
S = (Σ (Pi x Vi) x V) – C
Σ Vi
Ket.
Si = nilai tegakan jenis pohon i (Rp/ha)
Pi = harga jual kayu jenis i dalam negeri (Rp/m3)
Vi = volume produksi jenis kayu i (m3/ha)
Ci = biaya produksi, termasuk penyusutan, amortasi, bunga (Rp/ha)

Dalam Davis dan Jhonson (1987) menyebutkan perhitungan penilaian tegakan muda seumur dilakukan dengan persamaan :

PNWt = NRw + SEV
(1 + i ) w – t
ket :
PNWt = nilai sekarang dari tegakan muda seumur pada umur t
NRw = Nilai pendapatan bersih dari tegakan muda pada umur rotasi w
SEV = Nilai harapan lahan
i = tingkat suku bunga (%)
w = umur akhir daur
t = umur pada saat dilakukan penilaian

3.3. Metode Atas Dasar Biaya Historis

Pendekatan historis diterapkan secara baik pada hutan tanaman, seperti hutan tanaman industri oleh investor perusahaan swasta, hutan tanaman rakyat dan lain-lain.

Salah satu karakteristik usaha kehutanan adalah adanya jangka waktu yang panjang (long term business planning), selama jangka waktu tunggu tersebut (gestation period) dikeluarkan berbagai macam biaya pengelolaan tegakan, seperti penanaman, pemeliharaan terhadap segala macam gangguan yang bersifat alami, seperti hama dan penyakit, maupun karena kelalaian pihak lain, seperti kebakaran, pencurian dan lain-lain. Biaya-biaya ini terakumulasi sepanjang waktu tersebut, yang menambah besar biaya adalah adanya beban bunga modal yang signifikan, sementara hasil yang akan diperoleh pada saat masak tebang (daur/rotasi)

Biaya yang dikeluarkan hanya satu kali sebagai inventasi awal (Ca), selain itu dikeluarkan biaya pengelolaan tahunan (Ct), akumulasi nilai biaya sampai saat daur dihitung dengan formulasi sebagai berikut:

FV1t = Ca (1+i)t
FV2t = Ct (1+i)t – 1
i
SVt = FV1t + FV2t


DAFTAR PUSTAKA

Astana, S. 1982. Penaksiran Nilai Tegakan Hutan Alam di Propinsi Sulwesi Selatan. Fakultas Kehutanan IPB.
Davis, L.S. and K.N. Johnson. 1987. Forest Management. Third Edition. McGraw-Hill Book Company. New York.
IPB. 1996. kajian Rente Ekonomi Menuju Cara Perhitungan yang Baku Kerjasama antara Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Fakultas Kehutanan IPB.

No comments: