Thursday, December 18, 2008

Mengenal Allah SWT

MENGENAL ALLOH SWT

Satu Hadis Nabi Muhammad SAW. yang masyhur ialah;

"Siapa yang mengenal dirinya, mengenal ia akan TuhanNya"

Ini berarti dengan mematuhi dan memikirkan tentang dirinya dan sifat-sifatnya, manusia itu bisa sampai mengenal Alloh. Tetapi oleh karena banyak juga orang yang memikirkan tentang dirinya tetapi tidak dapat mengenal Tuhan, maka tentulah ada cara-caranya yang khusus bagi mengenal ini.
Sebenarnya ada dua cara untuk mencapai pengetahuan atau pengenalan ini. Salah satunya sangat sulit dan sukar difahami oleh orang-orang biasa, maka cara yang ini tidak usahlah kita terangkan di sini. Yang satu cara lagi adalah seperti berikut:

Apabila seseorang memikirkan dirinya, dia tahu bahwa ada suatu ketika ia tidak berwujud, seperti tersebut dalam Al-Quran:



“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu sesuatu yang dapat disebut?” (Al Insan:1)
Selanjutnya ia juga tahu bahwa ia dijadikan diri setitik air yang tidak ada akal, pendengar, penglihatan, kepala, tangan, kaki dan sebagainya, dari sini teranglah bahwa walau bagaimanapun seseorang itu mencapai taraf kesempurnaan, tidaklah dapat ia membuat dirinya sendiri meeskipun hanya sehelai rambut.

Kemudian pula jika ia setitik air, alangkah lemahnya ia? Demikianlah seperti yang kita lihat di bab pertama dulu, didapatinya dalam dirinya kekuasaan, kebijaksanaan dan kecintaannya terhadap Alloh terbayang dalam bentuk yang kecil. Jika semua manusia dalam dunia ini berkumpul dan mereka tidak mati, niscaya mereka tidak dapat mengubah dan memperbaiki bentuk walau satu bagian dari tubuhnya itu.

Misalnya, dalam penggunaan gigi depan dan gigi samping untuk menghancurkan makanan, penggunaan lidah, air liur, tengkuk, kerongkong, kita dapatinya penciptaan itu tidak dapat diperbaiki lagi. Begitu juga, fikirkan pula tangan dan jari kita. Jari ada lima dan tidak pula sama panjang, empat daripada jari itu mempunyai tiga persendian, dan ibu jari hanya ada dua persendian, dan lihat pula bagaimana ia bisa digunakan untuk memegang, mencincang, memukul dan sebagainya. Jelas sekali manusia tidak akan dapat berbuat demikian, meski hendak menambah atau mengurangkan jumlah jari itu dan susunannya .

Lihat pula makanan, tempat tinggal kita dan sebagainya. Semuanya cukup dikurniakan oleh Alloh yang maha kaya. Tahulah kita bahwa rahmat atau Kasih Sayang Alloh itu sama dengan Kekuasaan dan Kebijaksanaan-Nya, seperti firman Alloh Subhanahuwa Taala.

"RahmatKu itu lebih besar dari kemurkaanKu"

Dan sabda Nabi SAW:

"Alloh itu sayang kepada hamba-hambanya lebih dari sayang ibu kepada anaknya"

Demikianlah, dari makhluk yang dijadikanNya, manusia bisa tahu tentang wujud Alloh, dari keajaiban tubuhnya, ia dapat tahu tentang Kekuasaan dan Kebijaksanaanya Alloh; dan dari kurnia rezeki Tuhan yang tidak terbatas itu, nampaklah Cinta Alloh kepada hambaNya.

Dengan cara ini, mengenal diri sendiri itu menjadi anak kunci kepada pintu untuk mengenal Alloh Subhanawa Taala.

Sifat-sifat manusia itu adalah bayangan Sifat-sifat Alloh. Begitu juga cara wujud ruh manusia itu memberi kita sedikit pandangan tentang wujud Alloh, yaitu Alloh dan ruh itu tidak kelihatan, tidak bisa dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan, tidak tunduk kepada ruang dan waktu, diluar kemampuan kuantitas (jumlah) dan kualitas, dan tidak bisa diperikan dengan bentuk, warna atau ukuran. Orang merasa sulit hendak membentuk satu konsep berkenaan hakikat-hakikat ini karena ia tidak termasuk dalam bidang kualitas dan kuantitas, dan sebagainya, tetapi coba perhatikan betapa susah dan payahnya memberi konsep tentang perasaan kita sehari-hari seperti marah, suka, cinta dan sebagainya.

Semua itu adalah konsep pikiran atau tanggapan khayalan, dan tidak dapat dikenali oleh indera. kualiti, kuantiti dan sebagainya dan itu adalah konsep indera (tanggapan pancaindera). Sebagaimana telinga kita tidak dapat megenal warna, dan mata kita tidak dapat mengenal bunyi, maka begitu jugalah mengenal Ruh dan Alloh itu bukanlah dengan inderanya.

Alloh itu adalah Pemerintah alam semesta raya ini. Dia tidak tunduk kepada ruang dan waktu, kuantiti dan kualiti, dan menguasai segala makhluknya. Begitu juga ruh itu memerintah tubuh dan anggotanya. Ia tidak bisa dilihat, tidak bisa dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan dan tidak tunduk kepada tempat tertentu.
Karena bagaimana mungkin sesuatu yang tidak bisa dibagi-bagikan itu diletakan ke dalam sesuatu yang bisa dibagi atau dipecah?

Dari keterangan yang kita baca diatas itu, dapatilah kita lihat bagaimana benarnya sabda Nabi SAW.:
" Alloh jadikan manusia menurut rupanya".

Setelah kita mengenal Zat dan Sifat Alloh hasil dari bertafakur kita tentang zat dan sifat Ruh, maka sampailah pengenalan kita kepada cara-cara kerja dan pemerintahan Alloh Taala dan bagaimana ia mewakilkan kuasa-kuasaNya kepada malaikat-malaikat, dan lain-lain.
Dengan cara bertafakur tentang bagaimana diri kita memerintah alam kecil kita sendiri.

Kita ambil satu contoh:
Katakanlah seorang manusia hendak menulis nama Alloh. Mula-mulanya kehendak atau keinginan itu terkandung dalam hatinya. Kemudian dibawa ke otak oleh daya ruhani. Maka bentuk perkataan "Alloh" itu terdapat dalam khayalan atau pikiran otak itu. Selepas itu ia mengembara melalui saluran urat saraf, lalu menggerakkan jari dan jari itu mengerakkan pena. Maka tertulislah nama "Alloh" atas kertas, serupa seperti yang ada didalam otak penulis itu.

Begitu juga apabila Alloh Subahanahuwa Taala hendak menjadikan sesuatu hal, Ia mula-mulanya nampak dalam peringkat keruhanian yang disebut didalam Quran sebagai "Al-'Arasy". Dari situ ia turun dengan urusan Keruhanian ke peringkat yang di bawahnya yang digelar "Al-Kursi". Kemudian bentuknya nampak dalam "Al-Luh Al-Mahfuz". Dari situ dengan perantaraaan tenaga-tenaga "Malaikat" terbentuklah hal itu dan kelihatanlah di atas bumi ini dalam bentuk tumbuh-tumbuhan, pokok-pokok dan binatang, yang mewakilkan atau menggambarkan Iradat dan Ilmu Alloh.
Sebagaimana juga huruf-huruf yang tertulis, yang menggambarkan keinginan dan kemauan yang terbit dan terkandung dalam hati, dan bentuk itu dalam dalam otak penulis tadi.

Tidak ada orang yang tahu Hal Raja melainkan Raja itu sendiri. Alloh telah memberi kita Raja dalam bentuk yang kecil yang memerintah kerajaan yang kecil. Dan ini adalah satu salinan kecil Diri (Zat)Nya dan KerajaanNya. Dalam kerajaan kecil pada manusia itu, Arash itu ialah Ruhnya; ketua segala Malaikat itu ialah hatinya, Kursi itu otaknya, Luh Mahfuz itu ruang khazanah khayalan atau pikirannya. Ruh itu tidak bertempat dan tidak bisa dibagikan dan ia memerintah tubuhnya sebagaimana Alloh memerintah Alam Semester Raya ini. Pendeknya, tiap-tiap orang manusia itu diamanahkan dengan satu kerajaan kecil dan diperintahkan supaya jangan lengah dan lalai mengatur kerajaan itu.
Berkenaan dengan mengenal ciptaan Alloh Subhanahuwa Taala, ada banyak derajat pengetahuan. Ahli Ilmu Alam yang biasa adalah ibarat semut yang merangkak atas sekeping kertas dan memperhatikan huruf-huruf hitam terbentang di atas kertas itu dan merujukkan sebab kepada pena atau qalam itu saja.

Ahli Ilmu Falak adalah ibarat semut yang luas sedikit pandangannya dan nampak jari-jari tangan yang menggerakkan pena itu, yaitu ia tahu bahwa unsur-unsur itu adalah daya bintang-bintang, tetapi dia tidak tahu bahwa bintang itu adalah di bawah kuasa Malaikat.
Oleh karena berbeda-bedanya derajat pandangan manusia itu, maka tentulah timbul perbedaan hasil atau kesan. Mereka yang tidak memandang lebih jauh dari fenomena alam nyata ini adalah ibarat orang yang mengganggap hamba abdi yang paling rendah itu sebagai raja.

Walau bagaimanapun, adalah salah besar menganggap hamba itu tuannya.
Karena ada perbedaan ini, maka pertengkaran akan terus terjadi. Ini adalah ibarat orang buta yang hendak mengenal gajah. Seseorang memegang kaki gajah itu lalu dikatakannya gajah itu seperti tiang. Seorang lain memegang gadingnya lalu katanya gajah itu seperti kayu bulat yang keras. Seorang lagi memegang telinganya lalu katanya gajah itu macam kipas.

Tiap-tiap seorang mengganggap bagian-bagian itu sebagai keseluruhan. Dengan itu, ahli ilmu alam dan ahli ilmu Falak menyanggah hukum-hukum yang mereka dapat dari ahli-ahli hukum. Kesalahan dan sangkaan seperti itu terjadi juga kepada Nabi Ibrahim seperti yang tersebut dalam Al-Quran, Nabi Ibrahim menghadap kepada bintang, bulan dan matahari untuk disembah. Lama kelamaan beliau sadar siapa yang menjadikan semua-benda-benda itu, lalu bisa berkata,

"Saya tidak suka kepada yang tenggelam."

Kita selalu mendengar orang merujuk kepada sebab yang kedua bukan kepada sebab yang pertama dalam hal apa yang digelar sakit. Misalnya; jika seseorang itu tidak lagi cenderung kepada keduniaan, segala keindahan tidak lagi dipedulikannya, dan tidak peduli apa pun, maka dokter mengatakan, "Ini adalah penyakit gundah gulana, dan ia perlu obat ini A"

Ahli fisika akan berkata "Ini adalah kekeringan otak yang disebabkan oleh cuaca panas dan tidak dapat dilegakan kecuali udara menjadi lembab."

Ahli nujum akan mengatakan bahwa itu adalah pengaruh bintang-bintang.

"Hanya itulah kebijaksanaanya mereka" Kata Al-Quran, tidaklah mereka tahu bahwa sebenarnya apa yang terjadi ialah: Alloh Subahana Wataala memberi kebajikan orang yang sakit itu dan dengan itu memerintahkan hamba-hambanya seperti bintang-bintang atau unsur-unsur, mengeluarkan keadaan seperti itu kepada orang itu agar ia berpaling dari dunia ini mengadap kepada Tuhan yang menjadikannya.

Pengetahuan tentang hakikat ini adalah sebuah mutiara yang amat bernilai dari lautan ilmu yang berupa Ilham; dan ilmu-ilmu yang lain itu jika dibandingkan dengan Ilmu Ilham ini adalah ibarat pulau-pulau dalam lautan Ilmu Ilham itu.

Dokter, Ahli Fisika dan Ahli Nujum itu memang betul dalam bidang ilmu mereka masing-masing. Tetapi mereka tidak tahu bahwa penyakit itu bisa dikatakan sebagai "Tali Cinta" , yang dengan tali itu Alloh menarik AuliaNya kepadaNya. Berkenaan ini Alloh ada berfirman yang bermaksud;

"Aku sakit tetapi engkau tidak melawat Aku".

Sakit itu sendiri adalah satu bentuk pengalaman yang dengannya manusia itu bisa mencapai pengetahuan tentang Alloh sebagaimana firman Alloh melalui mulut Rasul-rasulNya,

"Sakit itu sendiri adalah hambaKu dan disertakan kepada orang-orang pilihanKu".

Dengan ulasan-ulasan yang terdahulu, dapatlah kita meninjau lebih mendalam lagi maksud kata-kata yang selalu diucapkan oleh orang-orang yang beriman yaitu,

"Maha Suci Alloh" (SubhanAlloh)
"Puji-pujian Bagi Alloh (Alhamdulillah)
"Tiada Tuhan Melainkan Alloh (La ilaha illAlloh)
"Alloh Maha Besar" (Allohu Akbar).

Berkenaan dengan "Allohu Akbar" itu bukanlah bermaksud Alloh itu lebih besar (secara fisik) dari makhluk, karena makhluk itu adalah penampakan-Nya sebagaimana cahaya memperlihatkan matahari. Tidaklah bisa dikatakan matahari itu lebih besar daripada cahayanya. Ia bermaksud yaitu Kebesaran Alloh itu tidak dapat diukur dan melampaui jangkauan kesadaran, dan kita hanya bisa membentuk gambaran yang tidak sempurna dan tidak nyata berkenaanNya.

Jika seorang anak-anak bertanya kepada kita untuk menerangkan enaknya mendapat pangkat yang tinggi, kita hanya dapat mengatakan seperti perasaan anak-anak itu tatkala sedang bermain bola, meskipun pada hakikat kedua-dua itu tidak ada persamaan langsung, kecuali hanya kedua-dua hal itu termasuk dalam jenis kesenangan.

Oleh yang demikian, kata-kata "Allohu Akbar" itu berarti Kebesaran itu melampaui semua kuasa pengenalan dan pengetahuan kita. Tidak sempurna pengenalan kita berkenaan Alloh itu, bukan dengan pikiran saja tetapi adalah disertai oleh ibadat dan pengabadian kita.

Apabila seorang itu mati, maka ia berhubungan dengan Alloh saja. Jika kita hidup dengan orang lain, kebahagiaan kita bergantung kepada derajat kemesraan kita terhadap orang itu.

Cinta itu adalah benih kebahagiaan, dan Cinta kepada Alloh itu dituju dan dibangun melalui ibadat.

Ibadat dan sentiasa mengenang Alloh itu memerlukan kita supaya bersikap sederhana dan mengekang kehendak-kehendak tubuh. Ini bukanlah berarti semua kehendak tubuh itu dihapuskan; karena itu akan menyebabkan punahnya manusia. Apa yang diperlukan ialah membatasi kehendak-kehendak tubuh itu. Oleh karena seseorang itu bukanlah Hakim yang paling bijak untuk mengadili dirinya sendiri tentang batas itu, maka ia lebih baik merundingi pemimpin-pemimpin keruhanian dalam hal ini, dan hukum-hukum yang mereka bawa melalui Wahyu Ilahi menentukan batas yang harus diperhatikan dalam hal ini.


…., Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang lalim. (Al-Baqarah; 229).

Walaupun Al-Qur'an telah memberi keterangan yang nyata, masih ada juga orang yang melanggar batas karena kejahilan mereka tentang Alloh dan kejahilan ini adalah karena beberapa sebab,
Pertama, ada golongan manusia yang terus mencari Alloh melalui pikiran, lalu mereka membuat kesimpulan dengan mengatakan tidak ada Tuhan dan alam ini terjadi dengan sendirinya atau wujudnya tanpa permulaan. Mereka ini seperti orang yang melihat surat yang tertulis dengan indahnya, dan mereka mengatakan surat itu sedia tertulis tanpa penulis atau ada begitu saja.Orang yang seperti ini telah jauh tersesat dan tidak berguna berhujah dan bertengkar dengan mereka. Setengah daripada orang-orang seperti ini adalah Ahli Fizika dan Ahli Bintang yang telah kita sebutkan di atas tadi.

Kedua, orang karena kejahilan tentang keadaan sebenarnya Ruh itu. Mereka menyangkal adanya hidup di Akhirat dan menyangkal manusia itu diadili di sana . Mereka anggap diri mereka itu satu taraf dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan dan akan hancur begitu saja.

Ketiga, orang yang percaya dengan Alloh dan Hari Akhirat, tetapi kepercayaan atau Iman mereka itu sangat lemah. Mereka berkata kepada diri mereka sendiri,

Pikiran mereka ini seperti orang sakit yang disuruh makan obat, tetapi ia berkata,

"Apa untung atau ruginya dokter itu jika aku makan obat atau tidak makan obat?" .

Memang tidak terjadi apa-apa kepada dokter itu tetapi orang itulah yang akan bertambah sakit karena bodohnya. Tubuh yang sakit berakhir dengan mati. Maka Ruh atau Jiwa yang sakit berakhir dengan kesusahan dan siksaan di akhirat nanti, seperti firman Alloh Taala dalam Al-Qur'an yang bermaksud :


"Hanya Dan barang siapa kafir maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (Luqman-23)
Keempat, ialah mereka yang berkata;

"Hukum Syariat menyuruh kita jangan marah, jangan menurut nafsu, jangan bersikap munafik. Ini tidak mungkin karena sifat-sifat ini memang telah ada semula jadi pada kita. Lebih baik tuan suruh saya membuat yang hitam itu jadi putih".

Mereka ini sebenarnya bodoh. Mereka jahil dengan hukum Syariat. Hukum Syariat tidak menyuruh manusia membuang sama sekali perasaan itu, tetapi hendaklah dikendalikan supaya tidak melanggar batas yang dibenarkan. Supaya terhindar dari dosa besar, dan kita bisa memohon keampunan terhadap dosa-dosa kita yang kecil. Sedangkan Rasulullah ada bersabda,
"Saya ini manusia juga seperti kamu, dan marah juga seperti orang lain".

Firman Alloh dalam Al-Qur'an:



Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Al-Imran:146)
Ini berarti bukan mereka yang tidak ada perasaan marah.

Kelima, ialah mereka yang menekankan Kemurahan Tuhan saja tetapi menepikan KeadilanNya, lalu mereka berkata kepada diri mereka sendiri,

"Kami buat apa saja karena Alloh itu Maha Pemurah dan Maha Penyayang".

Mereka tidak ingat meskipun Alloh itu Pengasih dan Penyayang, namun beribu-ribu manusia mati kelaparan dan karena penyakit. Meraka tahu, barang siapa hendak hidup atau hendak kaya, atau hendak belajar, mestilah jangan hanya berkata, "Alloh itu Kasih Sayang". tetapi perlulah ia berusaha sungguh-sungguh. Meskipun ada firman Alloh dalam Al-Qur'an :



Dan tidak ada suatu mahluk pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam mahluk itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz). (Hud:06)
tetapi hendaklah juga ingat Alloh juga berfirman :



Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha. (Furqon:47)
Sebenarnya mereka yang berpendapat di atas itu adalah dipengaruhi oleh Syaitan dan mereka berkata di mulut saja, bukan di hati.

Keenam, pula menganggap mereka telah sampai ke taraf kesucian dan tidak berdosa lagi. Tetapi kalau anda layani mereka dengan kasar dan tidak hormat, anda akan dengar mereka marah dan bertahun-tahun mencela anda. Dan jika anda ambil makanan sesuap saja yang patut, seluruh alam ini kelihatan gelap dan sempit pada perasaan mereka. Kalau pun mereka itu telah dapat menakluki hawa nafsu mereka, mereka tidak berhak menganggap dan mengatakan diri mereka itu tidak berdosa lagi, karena Nabi Muhammad SAW. sendiri, manusia yang paling tinggi darajatnya, sentiasa mengaku salah dan memohon ampun kepada Alloh. Setengah daripada Rasul-rasul itu sangat takut berbuat dosa sehingga pada hal- hal yang halal pun mereka menghidarkan diri .
Diriwayatkan, suatu hari Nabi Muhammad SAW. telah diberi sebiji Tamar. Beliau enggan memakannya kerena beliau tidak pasti Tamar itu didapati secara halal atau tidak. Tetapi mereka menelan arak berbotol-botol banyaknya dan berkata mereka lebih mulia daripada Nabi. (Saya gemetar semasa menulis ini) . Pada hal sebutir Tamar pun tidak disentuh oleh Nabi jika belum pasti sama ada halal atau tidak. Sesungguhnya mereka telah diseret dan disesatkan oleh Iblis.
Aulia Alloh yang sebenarnya mengetahui bahwa orang yang tidak menundukkan hawa nafsunya tidak patut dipanggil "orang" dan orang Islam yang sebenarnya ialah mereka yang dengan rela hati, tidak mahu melanggar Syariat.

Mereka yang melanggar Syariat adalah sebenarnya dipengaruhi oleh Syaitan dan mereka ini sepatutnya bukan dinasihati dengan pena, tetapi adalah sewajarnya dengan pedang.

Sufi-sufi yang palsu ini kadang-kadang berpura-pura tenggelam dalam lautan keheranan atau tidak sadar, tetapi jika anda tanya mereka apakah yang mereka heirankan itu, mereka tidak tahu. Sepatutnya mereka disuruh menungkan keheranan sebanyak-banyak yang mereka suka, tetapi di samping itu hendaklah ingat bahwa Alloh Subhanahuwa Taala itu adalah Pencipta mereka dan mereka itu adalah hamba Alloh saja.



Terjemahan Kitab Kimyatusy- Sya'adah - KIMIA KEBAHAGIAAN - Karya : Imam Al-Ghazali

Kunci Mengenal Allah SWT

ANAK KUNCI UNTUK MENGENAL ALLOH

Mengenal diri itu adalah "Anak Kunci" untuk Mengenal Alloh. Hadis ada mengatakan :

MAN 'ARAFA NAFSAHU FAQAD 'ARAFA RABBAHU

(Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal Alloh)

Firman Alloh Taala :

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (QS. 41:53)

Tidak ada hal yang melebihi diri sendiri. Jika anda tidak kenal diri sendiri, bagaimana anda hendak tahu hal-hal yang lain? Yang dimaksudkan dengan Mengenal Diri itu bukanlah mengenal bentuk lahir anda, tubuh, muka, kaki, tangan dan lain-lain anggota anda itu. karena mengenal semua hal itu tidak akan membawa kita mengenal Alloh. Dan bukan pula mengenal perilaku dalam diri anda yaitu bila anda lapar anda makan, bila dahaga anda minum, bila marah anda memukul dan sebagainya. Jika anda bermaksud demikian, maka binatang itu sama juga dengan anda. Yang dimaksudkan sebenarnya mengenal diri itu ialah:

Apakah yang ada dalam diri anda itu?

Dari mana anda datang? Kemana anda pergi? Apakah tujuan anda berada dalam dunia fana ini? Apakah sebenarnya bagian dan apakah sebenarnya derita?

Sebagian daripada sifat-sifat anda adalah bercorak kebinatangan. Sebagian pula bersifat Iblis dan sebagian pula bersifat Malaikat. Anda hendaklah tahu sifat yang mana perlu ada, dan yang tidak perlu. Jika anda tidak tahu, maka tidaklah anda tahu di mana letaknya kebahagiaan anda itu.

Kerja binatang ialah makan, tidur dan berkelahi. Jika anda hendak jadi binatang, buatlah itu saja. Iblis dan syaitan itu sibuk hendak menyesatkan manusia, pandai menipu dan berpura-pura. Kalau anda hendak menurut mereka itu, lakukan sebagaimana kerja-kerja mereka itu. Malaikat sibuk dengan memikir dan memandang Keindahan Ilahi. Mereka bebas dari sifat-sifat kebinatangan.

Jika anda ingin bersifat dengan sifat KeMalaikatan, maka berusahalah menuju asal anda itu agar dapat anda mengenali dan menuju pada Alloh Yang Maha Tinggi dan bebas dari belenggu hawa nafsu. Sebaiknya hendaklah anda tahu kenapa anda dilengkapi dengan sifat-sifat kebintangan itu.

A dakah sifat-sifat kebinatangan itu akan menaklukkan anda atau adakah anda menakluki mereka?. Dan dalam perjalanan anda ke atas martabat yang tinggi itu, anda akan gunakan mereka sebagai tunggangan dan sebagai senjata.

Langkah pertama untuk mengenal diri ialah mengenal bahwa anda itu terdiri dari bentuk yang zhohir, yaitu tubuh ; dan hal yang batin yaitu hati atau Ruh . Yang dimaksudkan dengan "HATI" itu bukanlah daging yang terletak dalam sebelah kiri tubuh.

Yang dimaksudkan dengan "HATI" itu ialah satu hal yang dapat menggunakan semua kekuatan, yang lain itu hanyalah sebagai alat dan kaki tangannya saja. Pada hakikat hati itu bukan termasuk dalam bidang Alam Nyata(Alam Ijsam) tetapi adalah termasuk dalam Alam Ghaib. Ia datang ke Alam Nyata ini ibarat pengembara yang melawat negeri asing untuk tujuan berniaga dan akhirnya kembali akan kembali juga ke negeri asalnya. Mengenal hal seperti inilah dan sifat-sifat itulah yang menjadi "Anak Kunci" untuk mengenal Alloh.

Sedikit ide tentang hakikat Hati atau Ruh ini bolehlah didapati dengan memejamkan mata dan melupakan segala hal yang lain kecuali diri sendiri. Dengan cara ini, dia akan dapat melihat tabiat atau keadaan "diri yang tidak terbatas itu". Meninjau lebih dalam tentang Ruh itu adalah dilarang oleh hukum. Dalam Al-Quran ada diterang,

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (Bani Israil:85)

Demikianlah sepanjang yang diketahui tentang Ruh itu dan ia adalah mutiara yang tidak bisa dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan dan ia termasuk dalam "Alam Amar/perintah". Ia bukanlah tanpa permulaan. Ia ada permulaan dan diciptakan oleh Alloh. Pengetahuan falsafah yang tepat mengenai Ruh ini bukanlah permulaan yang harus ada dalam perjalanan Agama, tetapi adalah hasil dari disiplin diri dan berpegang teguh dalam jalan itu, seperti tersebut di dalam Al-Quran :

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Al-Ankabut:69)

Untuk menjalankan perjuangan Keruhanian ini, bagi upaya pengenalan kepada diri dan Tuhan, maka

  • Tubuh itu bolehlah diibaratkan sebagai sebuah Kerajaan,
  • Ruh itu ibarat Raja.
  • Pelbagai indera (senses) dan daya (fakulti) itu ibarat satu pasukan tentara.
  • Aqal itu bisa diibaratkan sebagai Perdana Menteri.
  • Perasaan itu ibarat Pemungut pajak, perasaan itu terus ingin merampas dan merampok.
  • Marah itu ibarat Pegawai Polisi,
  • marah sentiasa cenderung kepada kekasaran dan kekerasan.

Perasaan dan marah ini perlu ditundukkan di bawah perintah Raja. Bukan dibunuh atau dimusnahkan karena mereka ada tugas yang perlu mereka jalankan, tetapi jika perasaan dan marah menguasai Aqal, maka tentulah Ruh akan hancur.

Ruh yang membiarkan kekuatan bawah menguasai kekuatan atas adalah ibarat orang orang yang menyerahkan malaikat kepada kekuasaan Anjing atau menyerahkan seorang Muslim ke tangan orang Kafir yang zalim. Orang yang menumbuh dan memelihara sifat-sifat iblis atau binatang atau Malaikat akan menghasilkan ciri-ciri atau watak yang sepadan dengannya yaitu iblis atau binatang atau Malaikat itu. Dan semua sifat-sifat atau ciri-ciri ini akan nampak dengan bentuk-bentuk yang jelas di Hari Pengadilan.

  • Orang yang menurut hawa nafsu nampak seperti babi,
  • Orang yang garang dan ganas seperti anjing dan serigala,
  • Orang yang suci seperti Malaikat.
Tujuan disiplin akhlak (moral) ialah untuk membersihkan Hati dari karat-karat hawa nafsu dan amarah, sehingga ia jadi seperti cermin yang bersih yang akan memantulkan Cahaya Alloh Subhanahuwa Taala.

Mungkin ada orang bertanya,

"Jika seorang itu telah dijadikan dengan mempunyai sifat-sifat binatang, Iblis dan juga Malaikat, bagaimanakah kita hendak tahu yang sifat-sifat Malaikat itu adalah sifatnya yang hakiki dan yang lain-lain itu hanya sementara dan bukan sengaja?"

Jawabannya ialah mutiara atau inti sesuatu makhluk itu ialah dalam sifat-sifat yang paling tinggi yang ada padanya dan khusus baginya. Misalnya keledai dan kuda adalah dua jenis binatang pembawa barang-barang, tetapi kuda itu dianggap lebih tinggi darjatnya dari keledai karena kuda itu digunakan untuk peperangan. Jika ia tidak boleh digunakan dalam peperangan, maka turunlah ke bawah derajatnya kepada derajat binatang pembawa barang-barang. saja.

Begitu juga dengan manusia; daya yang paling tinggi padanya ialah ia bisa berfikir yaitu Aqal. Dengan pikiran itu dia bisa memikirkan hal-hal Ketuhanan. Jika daya berfikir ini yang meliputi dirinya, maka bila ia mati (bercerai nyawa dari tubuh) , ia akan meninggalkan di belakang semua kecenderungan pada hawa nafsu dan marah, dan layak duduk bersama dengan Malaikat. Jika berkenaan dengan sifat-sifat Kebinatangan, maka manusia itu lebih rendah tarafnya dari binatang, tetapi Aqal menjadikan manusia itu lebih tinggi tarafnya, karena Al-Quran ada menerangkan bahwa,

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Luqman:20)

Jika sifat-sifat yang rendah itu menguasai manusia, maka setelah mati, ia akan memandang terhadap keduniaan dan merindukan keindahan di dunia saja.

Ruh manusia yang berakal itu penuh dengan kekuasaan dan pengetahuan yang sangat menakjubkan.

Dengan Ruh Yang Berakal itu manusia dapat menguasai segala cabang ilmu dan Sains.

Dapat mengembara dari bumi ke langit dan balik semula ke bumi dalam sekejap mata.

Dapat memetakan langit dan mengukur jarak antara bintang-bintang.

Dengan Ruh itu juga manusia dapat menangkap ikan ikan dari laut dan burung-burung dari udara.

Menundukkan binatang-binatang untuk tunduk kepadanya seperti gajah, unta dan kuda.

Lima indera (pancaindera) manusia itu adalah ibarat lima buah pintu terbuka menghadap ke Alam Nyata (Alam Syahadah) ini.

Lebih ajaib dari itu lagi ialah Hati. Hatinya itu adalah sebuah pintu yang terbuka menghadap ke Alam Arwah (Ruh-ruh) yang ghaib.

Dalam keadaan tidur, apabila pintu-pintu dunia tertutup, pintu Hati ini terbuka dan manusia menerima berita atau kesan-kesan dari Alam Ghaib dan kadang-kadang membayangkan hal-hal yang akan datang. Maka hatinya adalah ibarat cermin yang memantulkan (bayangan) apa yang tergambar di Luh Mahfuz. Tetapi meskipun dalam tidur, pikiran tentang hal-hal keduniaan akan menggelapkan cermin ini. maka gambaran yang diterimanya tidaklah terang. Setelah lepasnya nyawa dengan tubuh (mati), Pikiran-pikiran tersebut hilang sirna dan segala sesuatu terlihatlah dalam keadaan yang sebenarnya.

Firman Alloh dalam Al-Quran :

Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (Qaaf:22).

Terjemahan Kitab Kimyatusy- Sya'adah - KIMIA KEBAHAGIAAN - Karya : Imam Al-Ghazali

Penciptaan Manusia Bukan Senda Gurau

PENCIPTAN MANUSIA BUKAN SENDA GURAU

Ketahuilah bahawa manusia ini bukanlah dijadikan untuk gurau-senda atau "sia-sia" saja. Tetapi adalah dijadikan dengan 'Ajaib sekali dan untuk tujuan yang besar dan mulia. Meskipun manusia itu bukan Qadim (kekal dari azali lagi), namun ia hidup selama-lamanya. Meskipun tubuhnya kecil dan berasal dari bumi, namun Ruh atau Nyawa adalah tinggi dan berasal dari sesuatu yang bersifat Ketuhanan. Apabila hawa nafsunya dibersihkan sebersih-bersihnya, maka ia akan mencapai taraf yang paling tinggi. Ia tidak lagi menjadi hamba kepada hawa nafsu yang rendah. Ia akan mempunyai sifat-sifat seperti Malaikat.

Dalam peringkat yang tinggi itu, didapatinya SyurgaNya adalah dalam bertafakur mengenang Alloh Yang Maha Indah dan Kekal Abadi.

Tidaklah lagi ia tunduk kepada kehendak-kehendak kebendaan dan kenafsuan semata-mata. Al-Kimiya' Keruhanian yang membuat pertukaran ini. Seorang manusia itu adalah ibarat Kimia yang menukarkan logam biasa (Base Metal) menjadi emas. Kimia ini bukan senang hendak dicari. Ia bukan ada dalam sebarang rumah orang.

Kimia ini ialah ringkasnya berpaling dari dunia dan menghadap kepada Alloh Subhanahuwa Taala.

Bahan-bahan Kimia ini adalah empat :

1. Mengenal Diri
2. Mengenal Alloh
3. Mengenal Dunia ini Sebenarnya. (Hakikat Dunia)
4. Mengenal Akhirat sebenarnya (Hakikat Akhirat)

Tambah lagi satu bahan-bahan kimianya yaitu Mencintai Alloh sebagaimana yang terdapat dalam bab-bab.

Kita akan teruskan perbincangan kita berkenaan bahan-bahan ini satu-persatu...Insya Alloh.

Untuk menerangkan Al-Kimiya' itu dan cara-cara operasinya, maka pengarang (Imam Ghazali) coba menulis Kitab ini dan diberi judul "Al-Kimiya' As-Saadah" yakni Kimia Kebahagiaan.
Bahwa perbendaharaan Tuhan dimana Kimia ini boleh didapati ialah Hati Para Ambiya' dan pewaris-pewarisNya dari kalangan ulama-ulama Sufi kalangan Aulia Alloh. Barang siapa yang mencarinya selain itu adalah sia-sia dan akan Muflis (bangkrut) di Hari Pengadilan kelak apabila ia mendengar suara yang mengatakan :

"Kami telah angkat tirai dari kamu, dan pandangan kamu hari ini sangat tajam dan nyata". (Qaaf:22)

Alloh Subhanahuwa Taala telah turunkan ke bumi ini 124,000 orang Ambiya untuk mengajar manusia tentang bahan-bahan Al-Kimiya ini. Bagaimana hendak menyucikan hati mereka dari sifat-sifat rendah dan keji itu. Ikuti perkembangan perbincangan Imam Ghazali ini dari satu tingkat ke satu tingkat yang membuka jalan-jalan orang-orang Sufi yang mencapai Maqam Mahabbah, puncak tertinggi kebahagiaan yang ingin dimiliki oleh orang-orang yang Mengenal Alloh.

Terjemahan Kitab Kimyatusy- Sya'adah - KIMIA KEBAHAGIAAN - Karya : Imam Al-Ghazali

Pengembara Mencari Kebenaran

Sirrul Assrar dari Syeikh Abdul Qadir Jailani 27/27

27: PENUTUP

Pengembara di atas jalan kepada kebenaran mestilah mempunyai kebijaksanaan, kefahaman dan pengertian yang mendalam akan fitnah sesuatu. Ini semua merupakan kelayakan awal yang perlu dimilikinya. “Allah ciptakan hamba bijaksana dan berkebolehan yang meninggalkan dunia tempat huru hara mereka ke laut yang hanya ombak menjadi ujian mereka perbuatan baik adalah kapal yang menempuh gelombang”.

Orang memasuki jalan ini kerana ada matlamat yang dia tuju. Perhatiannya tetap teguh kepada matlamat namun, dia tidak boleh abaikan pentingnya persiapan untuk pengembaraan ini. Bila dia mempersiapkan diri dia mesti berjaga-jaga jangan ditipu oleh rupa yang menawan dan dia mesti tidak membebankan dirinya dengan muatan atau menjadikan perhentian atau setesen kerohanian sebagai matlamat terakhir.

Orang yang berada pada jalan kerohanian mengatakan segala perbuatan kepunyaan Yang Menciptakannya, manusia tidak sepenuhnya bertanggungjawab; di dalam tangannya perbuatan boleh kelihatan lain daripada apa yang sebenarnya. Allah berfirman: “Apakah mereka (berasa) aman (daripada) percubaan Allah? Kerana tidaklah ada yang berasa aman daripada percubaan Allah melainkan kaum yang muflis”. (Surah al-A'raaf, ayat 99).

Inilah dasar bagi jalan ini; meninggalkan semua muatan di belakang dan bergantung kepada Allah semata-mata, tidak dibingungkan oleh rangsangan pada setesen-setesen di sepanjang perjalanan. Dalam hadis Qudsi Allah berfirman: “Wahai Muhammad! Sampaikan khabar gembira kepada pendosa-pendosa yang Aku Maha Pengampun. Tetapi sampaikan kepada mereka yang benar-benar kepunyaan-Ku dan ikhlas pada niatnya untuk-Ku bahawa Aku sangat cemburu (terhadap apa yang mereka inginkan di samping Aku)”.

Kekeramatan yang zahir pada mereka yang hampir dengan Allah dan Setesen kerohanian yang mereka nyatakan adalah benar. Tetapi orang-orang yang seperti ini masih tidak terlepas daripada rangsangan Allah dan ujian-Nya merangsang kepada dosa – kadang-kadang mereka diberi kejayaan bila mereka mula berbuat dosa, jadi mereka fikir suasana atau keadaan mereka adalah milik mereka dan kekeramatan itu juga milik mereka. Hanya nabi-nabi dan mukjizat mereka yang bebas daripada ujian demikian. Adalah dikatakan ketakutan kehilangan iman ketika tercabut nyawa dari badan adalah satu-satunya penjagaan yang akan menjamin iman pada saat akhir.

Hassan al-Basri pernah berkata bahawa kepada orang yang hampir dengan Allah berjaya melalui ketakutan mereka terhadap Allah. Di dalam diri mereka takut jauh lebih kuat daripada harap kerana mereka tahu bahayanya diperbodohkan oleh sifat semula jadi manusia. Tipu daya ini menarik manusia keluar daripada jalan tanpa mereka menyedarinya. Dia juga berkata orang yang sihat takutkan penyakit dan harapannya adalah sedikit, sementara orang yang berpenyakit tidak lagi takutkan ditimpa penyakit dan harapannya untuk sihat bertambah.

Nabi s.a.w bersabda, “Jika ditimbang takut dan harap pada orang beriman kedua-duanya adalah sama” . Dengan rahmat Allah, ketika saat akhir kita, Allah lebihkan harapan kita daripada ketakutan. Nabi s.a.w bersabda, “ Semua umatku akan menghembuskan nafas terakhirnya dengan kepercayaan dan harapan kepada rahmat Allah” , kerana Allah menjanjikan, “Keampunan-Ku meliputi segala-galanya” , dan, “Rahmat-Ku mendahului murka-Ku”.

Allah Maha Pemurah, Penyayang dan Pengampun, tentu sekali para hamba boleh bergantung kepada-Nya. Namun pengembara pada jalan kerohanian mesti takut dan menyelamatkan dirinya daripada kemurkaan Allah. Untuk itu perlu dia serahkan semua yang dimilikinya – dirinya sendiri, kewujudannya – letakkan segala-galanya di kaki-Nya dan berlindung dengan-Nya di dalam-Nya.

Wahai pencari. Duduklah di atas lutut kamu di hadapan Tuhan kamu! Akui dan bertaubat terhadap kesalahan-kesalahan kamu! Tanggalkan daripada diri kamu segala kewujudan kebendaan! Akui dan bertaubat daripada dosa-dosa kamu yang lalu dan nantikan di pintu keampunan-Nya tanpa membawa apa-apa, dalam keadaan berhajat penuh kepada-Nya! Jika kamu lakukan ini tentunya kamu akan menerima rahmat-Nya, berkat-Nya, makrifat-Nya, kasih-Nya dan belas kasihan-Nya; dan semua dosa-dosa kamu dan kekotoran kamu akan hancur dan terlucut daripada kamu. Kerana Dia jualah Maha Besar, Pemurah, Penyayang, Tuhan yang kekal abadi, Maha Berkuasa!

Kami memohon keselamatan dan kesejahteraan ke atas penghulu kami Nabi Muhamamd s.a.w, keturunan baginda, sahabat-sahabat baginda dan sekalian pengikut baginda. Segala puji dan syukur kepunyaan Allah; kami serahkan segala-galanya ke dalam tangan-Nya.

AMIN!

Impian

Sirrul Assrar dari Syeikh Abdul Qadir Jailani 25/27

25: MIMPI-MIMPI

Mimpi yang dimimpikan di antara masa seseorang hampir lena hingga dia tidur lena adalah benar dan berfaedah. Mimpi-mimpi ini selalunya merupakan pembawa pembukaan dan perantaraan kepada yang luar biasa. Bukti kebenaran mimpi dinyatakan oleh Allah dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah akan buktikan mimpi itu benar kepada Rasul-Nya, kamu akan masuk Masjidil Haram jika dikehendaki Allah dengan aman”. (Surah al-Fath, ayat 27).

Dan memang benar Nabi s.a.w memasuki kota Makkah yang masih dikuasai oleh musuh-0musuh baginda, tahun sesudah baginda bermimpi. Contoh lain ialah mimpi Nabi Yusuf a.s: “Tatkala Yusuf berkata kepada bapanya, ‘Wahai bapaku, sesungguhnya aku melihat sebelas bintang dan matahari serta bulan – aku lihat – bersujud kepadaku”. (Surah Yusuf, ayat 4).

Nabi s.a.w bersabda, “ Tidak ada nabi yang datang selepas aku tetapi boleh datang pembukaan-pembukaan yang lain. Orang yang beriman akan melihat pembukaan itu dalam mimpi mereka atau pembukaan itu akan ditunjukkan kepada mereka menerusi mimpi”. “Bagi mereka pembukaan tentang khabar baik dalam dunia ini dan di akhirat”. (Surah Yunus, ayat 64).

Mimpi datangnya dari Allah tetapi kadang-kadang ada juga yang datang dari syaitan. Nabi s.a.w bersabda, “Sesiapa yang melihatku di dalam mimpi sesungguhnya dia benar-benar melihatku kerana syaitan tidak dapat mengambil bentukku” . Syaitan juga tidak dapat mengambil bentuk mereka yang mengikut iman, jalan kebenaran, makrifat, kebenaran dan cahaya Nabi s.a.w. Orang arif mentafsirkan hadis Nabi s.a.w di atas dengan mengatakan syaitan bukan sahaja tidak dapat mengambil bentuk Nabi s.a.w malah syaitan juga tidak dapat berpura-pura mengakui seseorang atau sesuatu yang ada sifat kemurahan dan kebaikan atau kasih sayang dan lemah lembut dan beriman. Sesungguhnya Nabi-nabi, wali-wali, malaikat, Masjidil haram, matahari, bulan, awan putih, Quran yang suci, merupakan kewujudan yang ke dalamnya syaitan tidak boleh masuk juga tidak dapat mengambil bentuk mereka. Ini kerana syaitan adalah tempat dan keadaan yang menzahirkan kekerasan, hukuman dan kesengsaraan. Ia hanya boleh menggambarkan kekeliruan dan keraguan. Bila seseorang sudah memiliki di dalam dirinya kenyataan nama Allah, ‘Pembimbing Mutlak Kepada Kebenaran', bagaimana sifat yang membawa kekacauan itu boleh menyata dalam dirinya? Sifat-sifat yang bertentangan satu sama lain tidak boleh bertukar tempat, seperti air dengan api. Kemurkaan tidak dapat mengambil tempat kemurahan, juga tidak boleh api menyerupai air. Mereka menolak sesama mereka, mereka berjauhan, mereka kepunyaan ruang yang berlainan. Allah Pisahkan kebenaran daripada kepalsuan:
“Demikianlah Allah nyatakan kebenaran dan kepalsuan… dengan misalan dan ibarat…”. (Surah ar-Ra'd, ayat 17).

Tetapi syaitan boleh mengaku menjadi Allah dan menipu manusia, membawa mereka menjadi sesat. Ini hanya boleh dilakukan dengan izin Allah. Allah mempunyai banyak sifat-sifat yang kelihatan bertentangan satu sama lain. Misalnya sifat-Nya Yang Gagah dan Keras kelihatan berlawanan dengan sifat-Nya Yang Indah dan Lemah-lembut. Syaitan dilaknati hanya boleh berpura-pura mengambil watak kemarahan dan keperkasaan kerana ia secara kejadian asalnya adalah bentuk menyatakan kekerasan Allah. Allah memiliki kedua-dua sifat, Pembimbing Mutlak kepada kebenaran dan juga Pembawa kepada kesesatan. Syaitan tidak boleh menjelma dengan watak sifat yang mengandungi nilai pembimbingan. Jika syaitan berpura-pura menjelmakan sebarang sifat Allah, ia lakukannya dengan kehendak dan izin Allah, bagi membimbing orang yang beriman kepada kebaikan dengan menentang kejahatan, membawanya kepada kebenaran dengan cara menentang kepalsuan. Dalam kenyataannya syaitan tidak ada sebarang kuasa untuk merampas iman daripada seseorang yang beriman; ia hanya boleh mengambilnya jika orang yang beriman itu sendiri mencampakkan imannya.

Allah memerintahkan Nabi-Nya supaya: “Katakanlah: ‘Inilah jalanku, yang aku dan orang-orang yang mengikuti daku menyeru (manusia) kepada Allah dengan basirah (penyaksian yang jelas). Maha Suci Allah! Dan bukanlah aku dari golongan musyrikin”. (Surah Yusuf, ayat 108).

Dalam ayat ini ‘orang yang mengikuti daku' adalah manusia sempurna, guru kerohanian yang sebenar yang akan datang selepas Nabi Muhamamd s.a.w, yang akan mewarisi ilmu batin baginda dan kebijaksanaan baginda dan yang akan berada hampir dengan Allah. Manusia yang demikian digambarkan sebagai ‘pelindung dan pembimbing sebenar'. (Surah al-Kahfi, ayat 17).

Ada dua jenis mimpi; subjektif (memberi pandangan atau perasaan sendiri) dan objektif (bermatlamat), masing-masing dibahagi kepada dua jenis. Jenis pertama mimpi subjektif ialah bayangan atau gambaran suasana kerohanian yang tinggi dan hasil daripada keharmonian, dan kelihatan dalam gambar seperti matahari, bulan, bintang, pemandangan padang pasir putih bermandikan cahaya, taman syurga, mahligai, roh yang cantik dalam bentuk malaikat dan lain-lain. Ini semua adalah sifat-sifat hati yang murni. Jenis kedua mimpi subjektif mengandungi gambaran yang berkaitan dengan suasana seseorang yang bebas daripada keresahan, yang mengenal diri dan menemui ketenteraman fikirannya. Gambaran-gambaran ini adalah kelazatan yang dia akan temui dalam syurga, bau-bauan dan suara di dalam syurga. Dia akan bermimpikan beberapa jenis haiwan dan burung yang menyerupai yang paling cantik yang jenisnya ada dalam dunia. Haiwan yang dilihat di dalam mimpi itu adalah haiwan syurga. Misalnya, unta adalah haiwan syurga. Kuda dihantar sebagai haiwan yang membawa tentera suci di dalam peperangan menentang orang-orang kafir di sekelilingnya dan di dalamnya. Lembu jantan kepada Nabi Adam a.s bagi menenggala tanah untuk ditanam gandum. Kambing biri-biri datangnya dari madu syurga, unta diciptakan dari cahaya syurga, kuda daripada selasih manis di dalam syurga, biri-biri daripada kunyit syurga.

Baghal menggambarkan suasana terendah seseorang yang menemui hati dan fikiran yang tenang. Bila dia mimpikan baghal itu tandanya dia cuai dan malas di dalam melakukan ibadat sebab hawa nafsu badannya menahan, dan usaha kerohaniannya tidak memberi hasil. Kemudian dia harus bertaubat dan teruskan melakukan kebajikan supaya dia akan mendapat hasil.

Keldai diciptakan dari batu syurga dan diberikan untuk berkhidmat kepada Nabi Adam a.s dan keturunannya. Keldai adalah lambang jasad dan keperluan kebendaannya, ego dan pentingkan diri sendiri. Jasad adalah haiwan yang membawa beban, membawa roh. Jika seseorang menjadi hamba kepada jasad dia adalah umpama orang yang memikul keldai di atas bahunya, tetapi manusia sebenar menunggangi keldai jasad kebendaannya. Jadi, keldai melambangkan cara atau alat dia mengarahkan urusan akhiratnya di dalam dunia ini.

Berkata-kata dengan jejaka tampan dengan wajah yang berseri-seri adalah tanda kenyataan Ilahi sampai kepada seseorang itu kerana mereka yang sudah memperolehi makrifat kepada kenyataan Ilahi di dalam syurga akan muncul di dalam rupa yang cantik. Nabi s.a.w menggambarkan orang demikian sebagai berkeadaan serba-kena, serba-elok, lemah lembut dan mempunyai mata kehitaman yang indah. Baginda bahkan mengatakan, “Aku lihat Tuhanku dalam rupa jejaka tampan”. Kerana Allah tidak menyerupai sesuatu, hadis ini dimengertikan sebagai kenyataan sifat-sifat Allah Yang Maha Indah digambarkan di dalam cermin roh yang suci. Gambaran ini dinamakan bayi bagi hati. Rupa kebendaan, badan, adalah cermin kepada kebijaksanaan ketuhanan yang mengajarkan dan membentuk kita. Gambaran ini juga adalah perhubungan di antara hamba dengan Tuhan. Saidina Ali r.a berkata, “Jika aku tidak dibentuk oleh Tuhanku aku tidak akan mengenal-Nya”.

Bagi pembentukan kerohanian, seseorang itu memerlukan petunjuk, bimbingan dan teladan daripada pembimbing yang masih hidup. Guru-guru yang menjadi pembimbing adalah nab-nabi dan orang-orang yang hampir dengan Allah yang mewarisi kebijaksanaan nabi-nabi. Melalui pengajaran mereka hati dan diri seseorang diterangi cahaya, menerangi perjalanan mereka. Murid menemui roh yang diilhamkan di dalam dirinya melalui mereka yang menjadi guru kerohanian tersebut. “Dia jualah yang tinggi darjat-Nya, yang memiliki arasy. Dia kirimkan roh (dari perintah-Nya) kepada sesiapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya buat Dia ancam dengan hari pertemuan”. (Surah Mukmin, ayat 15).

Untuk keselamatan hati kamu mestilah mendapatkan guru yang mengilhamkan kamu dengan roh itu.

Imam al-Ghazali berkata, “ Tidak menjadi kesalahan bagi seseorang melihat Allah dalam mimpinya sebagai gambaran yang indah. Gambaran itu adalah symbol menurut peringkat kerohanian seseorang. Apa yang dilihat tentu sekali bukan Zat Yang Maha Suci yang tidak serupa dengan sesuatu. Begitu juga Nabi s.a.w tidak dapat dilihat dalam rupa baginda yang asli, kecuali mereka yang menjadi waris kepada hikmah kebijaksanaan baginda, ilmu dan amalan baginda, dan yang mengikuti baginda secara keseluruhan. Yang lain, bila mereka mimpikan Rasulullah s.a.w, mimpikan simbol menurut kemampuan dan suasana mereka, tetapi mereka tidak sebenarnya melihat baginda”.

Kata qil (kata orang bijak pandai), “Dibolehkan melihat Allah di dalam mimpi sebagai cahaya atau rupa manusia”. Dia menyatakan Diri-Nya dalam bentuk sifat-sifat-Nya. Kepada Nabi Musa a.s Dia kelihatan sebagai api pada pokok jujube yang terbakar. Itu adalah penzahiran tentang Kalam Suci yang Nabi Musa a.s dengan sebagai Belukar Terbakar, mengatakan, “Wahai Musa, apakah di tangan kamu?' (Surah Ta Ha, ayat 15).

Apa yang kelihatan kepada Musa a.s sebagai api adalah cahaya Ilahi. Dia melihatnya sebagai api menurut peringkat dan hasratnya, kerana dia sedang mencari api. Bagi manusia, peringkat kewujudan terendah pada dirinya ialah tumbuh-tumbuhan, kemudian haiwan. Apakah yang ganjil jika manusia yang telah menyucikan dirinya daripada tahap-tahap rendah itu sehingga menjadi manusia sempurna, melihat kenyataan Tuhan dizahirkan sebagai Belukar Terbakar. Bagi manusia sempurna yang lain Allah menzahirkan Kalam-Nya sebagai perkataan mereka sendiri, keluar daripada mulut mereka. Bayazid al-Bustami berkata, “Zatku adalah Yang Maha Mulia. Betapa besarnya kemuliaan daku” . Kalam Suci keluar daripada mulut Junaid al-Baghdadi, “Tiada yang lain kecuali Allah di dalam jubahku” . Terdapat rahsia-rahsia besar di dalam peringkat seperti ini yang dicapai oleh manusia sempurna. Terlalu sukar untuk menerangkannya dan terlalu panjang untuk menghuraikannya. Ia hanya berkaitan dengan mereka yang menghabiskan hayatnya mengejar ilmu batin.

Untuk menjadi penerima penzahiran Ilahi dan untuk berhubung dengan roh Nabi s.a.w, seseorang mesti diajar dan dididik dan dibawa ke peringkat kerohanian tersebut. Orang yang baharu memasuki perjalanan kerohanian tidak boleh berharap dapat berhubung dengan Allah dan Rasul-Nya. Di antara guru yang suci yang hampir dengan Allah dan Rasul-Nya ada hubungan yang mengatasi zahiriah. Jika Nabi s.a.w masih hidup seseorang boleh mengambil ilmu secara langsung daripada baginda dan tidak perlulah kepada perantaraan. Tetapi oleh kerana baginda sudah wafat dan berpindah kepada alam baqa, baginda berpisah dengan keadaan keduniaan dan kebendaan. Jadi, seseorang tidak dapat berhubung secara langsung dengan baginda. Hal yang sama juga terjadi pada guru yang benar. Bila mereka meninggal dunia orang ramai tidak boleh lagi belajar dengan mereka.

Kamu akan faham jika kamu mempunyai pengertian yang mendalam, jika kamu mencari bukan untuk menjadi luar biasa. Mencari untuk memperolehi kefahaman ini dengan renungan mendalam, agar kamu melepasi kegelapan ego diri kamu dengan cahaya yang dinyalakan. Kamu perlu cahaya untuk melihat, untuk mengerti. Kamu tidak boleh melihat di dalam kegelapan. Cahaya itu hanya jatuh pada tempat yang sesuai, yang teratur dan suci, tempat yang mulia. Orang yang baharu, dengan dirinya sendiri, tidak dapat meletakkan dirinya dalam kesesuaian dan sebab itu memerlukan guru.

Guru yang masih hidup mestilah ada hubungan dengan Nabi s.a.w – iaitu jika dia benar-benar pewaris suasana Nabi s.a.w. Dalam perjalanannya dia menerima bimbingan daripada Nabi s.a.w dan diajarkan untuk menjadi hamba Allah yang sabar. Dengan bantuan ini dia menjadi alat bagi penerusan jalan batin. Selebihnya adalah rahsia. Hanya orang yang layak mengalaminya akan mengalaminya.
“Bagi Allah jualah kemuliaan dan bagi Rasul-Nya dan bagi orang mukmin”. (Surah Munafiquun, ayat 8).

Suasana yang mulia ini adalah rahsia.

Latihan kerohanian bukanlah perkara mudah. Roh kebendaan berada di dalam tubuh dan dilatih dengannya. Tempat roh kerohanian di dalam hati. Tempat roh sultan adalah pusat hati. Tempat roh kudus (roh suci) adalah rahsia. Rahsia itu adalah jalan yang menghubungkan yang hak dengan orang yang beriman. Ia adalah juru bahasa, menterjemahkan yang hak kepada si pencari, kerana rahsia itu kepunyaan Allah, adalah hampir dengan-Nya dan amanah-Nya.

Ada juga mimpi akibat kelakuan buruk. Ia menunjukkan sifat-sifat ego yang menguasai atau kesedaran terhadap kesalahan tetapi dia tidak mampu menghentikannya.

Malah dalam suasana yang lebih baik bila seseorang diingatkan oleh Allah tentang kesalahan dan dosanya dia mimpikan haiwan liar seperti harimau dan singa, serigala dan beruang, anjing dan babi jantan, dan haiwan-haiwan kecil – musang, arnab, kucing ular, kala jengking dan haiwan yang memakan daging dan juga haiwan berbisa, haiwan yang merosakkan.,

Untuk menyatakan sebahagian kecil kejahatan yang ditunjukkan oleh gambaran-gambaran itu: Harimau adalah simbol; ujub dan besar diri serta takabur yang sampai kepada peringkat angkuh dengan Allah: “Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan tidak mahu terima dia, maka tidak akan dibuka pintu-pintu langit dan tidak akan mereka masuk syurga sehingga unta boleh masuk ke lubang jarum”. (Surah al-A'raaf, ayat 40).

Hukuman yang sama juga bagi mereka yang angkuh dengan sesama manusia.

Serigala adalah simbol kasihkan diri yang melampau dan inginkan pujian. Beruang melambangkan kemarahan dan keberangan dan kezaliman ke atas orang yang dia kuasai. Serigala melambangkan kerakusan tanpa memperdulikan haram dan halal, bersih atau kotor. Anjing melambangkan kasihkan dunia dan huru harinya. Babi melambangkan kedinginan, cita-cita tinggi, berendam dan hawa nafsu yang kuat. Musang menunjukkan penipuan, pembohongan, menipu dalam urusan dunia. Arnab menunjukkan kelakuan yang sama, kecuali dilakukan secara tidak sedar dan dalam kelalaian. Harimau bintang – usaha yang digunakan tanpa pertimbangan dan menyakitkan hati, juga ingin menjadi terkenal. Kucing – kebakhilan dan memutar belit. Ular – berbohong, mengata-ngata, membuat tuduhan palsu dan menyakitkan orang lain dengan perkataannya. Kala jengking – kritik yang tidak sihat, mempersendakan orang dan tidak menerima mereka. Tebuan – bahasa kesat yang menyakitkan hati orang.

Jika seseorang bermimpi berlawan dengan salah satu daripada haiwan tersebut tetapi tidak dapat mengalahkannya dia perlu memperkuatkan lagi usaha, ibadat dan ingatan secara sedar, sehingga sekali pukul binatang itu dapat dihapuskan. Jika bermimpi membunuh binatang itu bermakna dia telah berhenti melakukan kesalahan dan menyakitkan hati orang lain. Allah berfirman: “ Dia akan hapuskan daripada mereka kejahatan dan Dia akan perbaiki keadaan mereka”. (Surah Muhammad, ayat 2).

Jika dia bermimpi salah satu daripada binatang itu berubah menjadi manusia itu tandanya suasananya yang salah dahulu telah diperbetulkannya dan taubatnya diterima, kerana tanda sebenar taubat diterima ialah ketidak-upayaan melakukan kesalahan yang sama. “Kecuali orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan akal salih, maka mereka itu Allah tukarkan kejahatan mereka dengan kebaikan…” (Surah al-Furqaan, ayat 70).

Bila seseorang diselamatkan daripada kejahatan dan kesalahan dia mesti menjaganya sungguh-sungguh, jangan berasa sudah selamat, kerana hawa nafsu dan ego mendapat kembali kekuatannya melalui ingatan yang sedikit terhadap keingkaran, bangkangan dan kejahatan, dan membawa seseorang kembali kepada cara lama. Suasana roh yang sejahtera dengan mudah akan hilang. Tujuan Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya menahan diri daripada yang haram adalah mengwujudkan amaran yang berterusan untuk menjaga seseorang agar sentiasa berwaspada.

Ego jahat yang memerintah kadang-kadang kelihatan dalam mimpi sebagai orang kafir; diri yang mengkritik diri sendiri boleh kelihatan sebagai orang Yahudi; diri yang berperangsang kadang-kadang kelihatan sebagai orang Kristian.

Pengikut Jalan Kerohanian

Sirrul Assrar dari Syeikh Abdul Qadir Jailani 26/27

26: PENGIKUT-PENGIKUT JALAN KEROHANIAN

Orang-orang yang mengikuti jalan kerohanian terbahagi kepada dua bahagian atau golongan. Golongan pertama ialah yang termasuk ke dalam kumpulan Sunnis; mereka yang mengikuti peraturan Quran dan amalan serta peraturan yang berasal daripada kelakuan dan perbuatan Rasulullah s.a.w. Mereka ikuti peraturan ini dalam perkataan, perbuatan, pemikiran dan perasaan, dan mereka mengikuti maksud batin agama – iaitu mereka mengerti bukan ikut secara taklid buta. Mereka beramal dan hidup menurut peraturan agama, merasainya dan menikmatinya, bukan semata-mata menanggung sesuatu yang dipaksakan ke atas mereka. Inilah jalan kerohanian yang mereka ikut. Inilah persaudaraan hamba-hamba Allah yang berkasih sayang. Sebahagian daripada mereka dijanjikan syurga tanpa hisab, yang lain akan menderita sedikit azab hari kiamat dan kemudian masuk syurga. Namun ada juga sebahagian yang memasuki neraka beberapa ketika yang singkat untuk menyucikannya daripada dosa sebelum masuk syurga. Tiada yang akan kekal di dalam neraka. Yang akan kekal di dalam neraka ialah orang kafir dan munafik.

Golongan kedua terdiri daripada kumpulan-kumpulan yang bidaah. Nabi s.a.w telah memberi peringatan , “ Kamu, seperti Bani Israil sebelum kamu, seperti umat Isa anak Maryam, akan dibahagikan dan dipisahkan di antara satu sama lain. Sebagaimana mereka mereka-reka dan mengubah-ubah, kamu juga akan mengadakan bidaah. Dengan masa berlalu dalam bidaah, tentangan dan dosa, kamu akan jadi seperti mereka dan berbuat yang sama. Jika mereka masuk ke dalam lubang ular yang berbisa kamu juga akan mengikuti mereka. Kamu patut tahu Bani Israil berpecah kepada tujuh puluh satu kumpulan. Kesemuanya dalam kesesatan kecuali satu. Dan orang Nasrani berpecah kepada tujuh puluh dua kumpulan, dan semuanya sesat kecuali satu. Aku bimbang umatku akan dipecahkan kepada tujuh puluh tiga kumpulan. Ini terjadi kerana mereka mengubah yang benar kepada yang salah dan yang haram kepada yang halal menurut pertimbangan mereka sendiri, untuk muslihat dan keuntungan mereka, kecuali satu, semua kumpulan itu akan ke neraka, dan kumpulan yang satu itu akan selamat.” Bila ditanya siapakah yang satu diselamatkan itu baginda bersabda, “Mereka yang mengikuti kepercayaan dan perbuatanku serta para sahabatku”.

Di bawah ini dinyatakan sebahagian daripada jalan bidaah yang dipegang dan diikuti oleh orang-orang yang mengakui diri mereka orang kerohanian:

• Hululiyya – percaya kepada penjelmaan dalam bentuk makhluk atau manusia, mendakwa halal melihat tubuh dan wajah yang cantik, samada perempuan atau lelaki, siapa sahaja samada isteri-isteri atau suami-suami, anak-anak perempuan atau saudara-saudara perempuan orang lain. Mereka juga bercampur dan menari bersama-sama. Ini jelas bertentangan dengan peraturan Islam dan menjaga kesucian dan kehormatan di dalam peraturan tersebut.

• Haliyya – mencari kerasukan zauk dengan cara menari, menyanyi, menjerit dan bertepuk tangan. Mereka mendakwa syeikh mereka berada dalam suasana yang mengatasi batasan hukum agama. Jelas sekali mereka terpesung jauh daripada perjalanan Nabi s.a.w yang dalam tindak tanduk mematuhi hukum agama.

• Awliya'iyya – mendakwa mereka berada dalam kehampiran dengan Allah dan mengatakan bila hamba hampir dengan Tuhan semua kewajipan agama terangkat daripada mereka. Seterusnya mereka mendakwa seorang wali, orang yang hampir dengan Allah, menjadi sahabat akrab-Nya, mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada nabi. Mereka mengatakan ilmu sampai kepada Rasulullah s.a.w melalui Jibrail sementara wali menerima ilmu secara langsung dari Tuhan. Pandangan salah tentang suasana mereka dan apa yang mereka sifatkan kepada diri mereka adalah dosa mereka yang paling besar yang membawa mereka kepada bidaah dan kekufuran.

• Syamuraniyya – percaya dunia ini kekal abadi, dan sesiapa yang mengucapkan perkataan abadi akan terlepas daripada tuntutan agama, lagi mereka tidak ada hukum halal dan haram. Mereka menggunakan alat musik dalam upacara ibadat mereka. Mereka tidak memisahkan lelaki dengan perempuan. Mereka tidak membezakan dua jantina itu. Mereka adalah kumpulan kafir yang tidak boleh diperbetulkan lagi.

• Hubiyya – mengatakan bila manusia sampai ke peringkat cinta mereka bebas daripada semua kewajipan agama. Mereka tidak menutup kemaluan mereka.

• Huriyya – seperti Haliyya, enggan menjerit, menyanyi, menari dan bertepuk tangan, mereka menjadi kerasukan dan di dalam suasana kerasukan itu mereka mendakwa mengadakan hubungan jenis dengan bidadari; bila keluar dari kerasukan mereka mandi junub. Mereka dimusnahkan oleh pembohongan mereka sendiri.

• Ibahiyya – enggan mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran. Mereka menghukumkan haram sebagai halal. Mereka memahatkan pendapat ini kepada kaum perempuan. Bagi mereka semua perempuan halal bagi semua lelaki.

• Mutakasiliyya – menjadikan prinsip kemalasan dan meminta sedekah dari rumah ke rumah sebagai cara mendapatkan keperluan harian mereka. Mereka mendakwa telah meninggalkan segala hal ehwal dunia. Mereka gagal dan terus gagal di dalam kemalasan mereka.

• Mutajahiliyya – berpura-pura jahil dan dengan sengaja berpakaian tidak sopan, cuba menunjukkan dan berkelakuan seperti orang kafir, sedangkan Allah berfirman, “Jangan cenderung kepada yang berbuat dosa”. (Surah Hud, ayat 113) . Nabi s.a.w bersabda, “Sesiapa yang cuba berlagak seperti satu kaum dia dianggap salah seorang dari mereka”.

• Wafiqiyya – mendakwa hanya Allah yang boleh kenal Allah. Jadi, mereka membuang jalan kebenaran. Kejahilan yang disengajakan membawa mereka kepada kemusnahan.

• Ilhamiyya – berpegang dan mengharapkan kepada ilham, meninggalkan ilmu pengetahuan, melarang belajar, dan berkata Quran adalah hijab bagi mereka, dan fikiran puisi adalah Quran mereka. Mereka meninggalkan Quran dan sembahyang, sebaliknya mengajarkan anak-anak mereka puisi.

Pemimpin-pemimpin dan guru-guru dari kumpulan Sunni mengatakan para sahabat, dengan berkat kehadiran Rasulullah s.a.w di tengah-tengah mereka, berada dalam suasana zauk dan keghairahan kerohanian yang sangat tinggi. Pada zaman kemudian peringkat kerohanian yang demikian tidak tercapai lagi oleh orang ramai dan ia menjadi semakin hilang. Yang masih tinggal diturunkan kepada pewaris-pewaris kerohanian pada jalan kebenaran Ilahi, yang kemudiannya terbahagi kepada banyak cabang-cabang. Ia berpecah kepada terlalu banyak kumpulan sehingga kebijaksanaan dan tenaganya menjadi sangat berkurangan dan berselerak. Dalam banyak kes segala yang tinggal hanyalah rupa yang dibaluti oleh pakaian guru kerohanian tanpa sebarang makna, kekuatan dan tenaga di bawah pakaian tersebut. Walaupun dalam suasana kosong itu ia masih juga berpecah dan berganda, bertukar menjadi bidaah. Sebahagian menjadi Qalandari – peminta sedekah yang mengembara. Yang lain menjadi Haydari dan berpura-pura menjadi wira. Yang lain pula menamakan diri mereka Adhami dan berpura-pura mengikuti wali Allah Ibrahim Adham yang meninggalkan takhta kerajaan dunia ini. Masih ramai lagi yang lain.

Dalam zaman kita mereka yang mengikuti jalan kebenaran sesuai dengan hukum agama menjadi semakin berkurangan. Pengikut-pengikut yang benar pada jalan ini boleh dikenali melalui dua kenyataan. Pertama, kenyataan zahir, yang menunjukkan keadaan kehidupan harian mereka yang dibentengi oleh hukum dan amalan agama. Kedua kenyataan dalaman, contoh teladan yang si pencari itu ikuti dan lahirkan dan dengan apa yang dia dibimbingkan. Sesungguhnya tiada yang lain untuk diikuti melainkan Nabi Muhamamd s.a.w, yang menjadi teladan, yang pada satu masa dahulu baginda sendiri berada dalam suasana mencari dan kebenaranlah yang baginda cari. Tanpa ragu-ragu roh suci baginda sahaja yang menjadi perantaraan. Itulah undang-undang yang mesti dipatuhi oleh orang yang beriman bagi penerusan kehidupan agama dalam kehidupan. Cara lain, wali yang memiliki pesaka kerohanian Nabi s.a.w boleh memberkati si pencari dengan kewujudan kebendaannya. Sesungguhnya syaitan tidak boleh mengambil rupa Nabi s.a.w.

Waspadalah wahai pengembara pada jalan kerohanian, orang buta tidak boleh memimpin orang buta. Perhatian kamu mesti bersungguh-sungguh agar kamu dapat membezakan kebaikan yang paling kecil daripada kejahatan yang paling kecil.

Adab Suluk "Zikir & Doa"

Sirrul Assrar dari Syeikh Abdul Qadir Jailani 24/27

24: DOA DAN ZIKIR BERHUBUNG DENGAN JALAN SULUK

Sesiapa yang memilih untuk memisahkan dirinya daripada dunia supaya dia dapat menghampiri Allah hendaklah tahu ibadat-ibadat seperti doa dan zikir yang sesuai untuk tujuan tersebut. Melakukan ibadat tersebut memerlukan suasana yang suci dan sebaik-baiknya berada di dalam keadaan berpuasa. Bilik khalwat biasanya berhampiran dengan masjid kerana syarat bagi salik perlu meninggalkan bilik khalwatnya lima kali sehari bagi mengerjakan sembahyang berjemaah dan pada ketika tersebut hendaklah menjaga dirinya agar tidak menonjol, menyembunyikan diri dan tidak berkata-kata walau sepatah perkataan pun. Sesiapa yang di dalam suluk hendaklah mengambil langkah tegas untuk lebih menghayati dan mematuhi prinsip-prinsip, dasar-dasar dan syarat-syarat sembahyang berjemaah.

Setiap malam, ketika tengah malam, salik mestilah bangun untuk mengerjakan sembahyang tahajjud, yang bermaksud suasana jaga sepenuhnya di tengah-tengah tidur. Sembahyang tahajjud membawa symbol kebangkitan setelah mati. Bila seseorang berjaya bangun untuk melakukan sembahyang tahajjud dia adalah Pemilik hatinya dan pemikirannya bersih. Agar suasana jaga ini tidak rosak dia tidak seharusnya melibatkan diri dengan kegiatan harian seperti makan dan minum.

Sebaik sahaja bangun dengan menyedari dibangkitkan daripada kelalaian kepada kesedaran, ucapkan: “Alhamduli-Llahi ahyani ba'da ma amatani wa-ilaihin-nusyur- Segala puji bagi Allah yang membangkitkan daku setelah mengambil hidupku. Selepas mati semua akan dibangkitkan dan kembali kepada-Nya”.

Kemudian bacakan sepuluh ayat terakhir surah al-‘Imraan, iaitu ayat 190 – 200. Selepas itu mengambil wuduk dan berdoa:
“Kemenangan untuk Allah! Segala puji untuk-Mu. Tidak ada yang lain daripada-Mu yang layak menerima ibadat. Daku bertaubat dari dosaku. Ampuni dosaku, maafkan kehadiranku, terimalah taubatku. Engkau Maha Pengampun, Engkau suka memaafkan. Wahai Tuhanku! Masukkan daku ke dalam golongan mereka yang menyedari kesalahan mereka dan masukkan daku ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang salih yang memiliki kesabaran, yang bersyukur, yang mengingati Engkau dan yang memuji Engkau malam dan siang”.

Kemudian dongakkan pandangan ke langit dan buat pengakuan:
“Aku naik saksi tiada Tuhan melainkan Allah, Esa, tiada sekutu, dan aku naik saksi Muhamamd adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Daku berlindung dengan keampunan-Mu daripada azab-Mu. Daku berlindung dengan keredaan-Mu daripada murka-Mu. Daku berlindung dengan-Mu daripada-Mu. Aku tidak mampu mengenali-Mu sebagaimana Engkau kenali Diri-Mu. Aku tidak mampu memuji-Mu selayaknya. Daku adalah hamba-Mu, daku adalah anak kepada hamba-Mu. Dahiku yang di atasnya Engkau tuliskan takdir adalah dalam tangan-Mu. Perintah-Mu berlari menerusi daku. Apa yang Engkau tentukan untukku adalah baik bagiku. Daku serahkan kepada-Mu tanganku dan kekuatan yang Engkau letakkan padanya. Daku buka diriku di hadapan-Mu, mendedahkan semua dosaku. Tiada Tuhan kecuali Engkau, dan Engkau Maha Pengampun, aku yang zalim, aku yang berbuat kejahatan, daku menzalimi diriku. Untukku kerana daku adalah hamba-Mu ampunkan dosa-dosaku. Engkau jualah Tuhan, hanya Engkau yang boleh mengampunkan”.

Kemudian menghadap ke arah kiblat dan ucapkan: “Allah Maha Besar! Segala puji untuk-Nya. Aku ingat dan membesarkan-Nya”.

Kemudian ucapkan sepuluh kali: “Segala kemenangan buat Allah”.

Kemudian ucapkan sepuluh kali: “Segala puji dan syukur untuk Allah”.

Kemudian ucapkan sepuluh kali: “Tiada Tuhan melainkan Allah”.

Kemudian lakukan sembahyang sepuluh rakaat, dua rakaat satu salam. Nabi s.a.w bersabda, “Sembahyang malam dua, dua”. Allah memuji orang yang bersembahyang malam. “Dan di sebahagian malam hendaklah engkau sembahyang tahajjud sebagai sembahyang sunat untukmu, supaya Tuhanmu bangkitkan kamu di satu tempat yang terpuji”. (Surah Bani Israil, ayat 79).

“Renggang rusuk-rusuk mereka dari tempat tidur, dalam keadaan menyeru Tuhan mereka dengan takut dan penuh harapan, dan sebahagian daripada apa yang Kami kurniakan itu mereka belanjakan”. (Surah as-Sajadah, ayat 16 & 17).

Kemudian pada akhir malam bangun semula untuk mengerjakan sembahyang witir tiga rakaat, sembahyang yang menutup semua sembahyang-sembahyang pada hari itu. Pada rakaat ketiga selepas al-Faatihah bacakan satu surah dari Quran, kemudian angkatkan tangan seperti pada permulaan sembahyang sambil ucapkan “Allahu Akbar!” dan bacakan doa qunut. Kemudian selesaikan sembahyang seperti biasa.

Setelah matahari terbit orang yang di dalam suluk perlu melakukan sembahyang isyraq, sembahyang yang menerangi, dua rakaat. Selepas itu melakukan sembahyang istihadha' dua rakaat, mencari perlindungan dan keselamatan daripada syaitan. Pada rakaat pertama selepas al-Faatihah bacakan surah al-Falaq. Dalam rakaat kedua selepas al-Faatihah bacakan surah an-Nas.

Bagi mempersiapkan diri untuk hari itu lakukan sembahyang sunat istikharah, sembahyang meminta petunjuk Allah untuk keputusan yang benar pada hari itu. Pada tiap rakaat selepas al-Faatihah bacakan ayat al-Kursi. Kemudian tujuh kali surah al-Ikhlas. Kemudian pagi itu lakukan sembahyang dhuha, sembahyang kesalihan dan kedamaian hati. Lakukan enam rakaat. Bacakan surah asy-Syams dan surah ad-Dhuha. Sembahyang dhuha diikuti oleh dua rakaat kaffarat, sembahyang penebusan terhadap kekotoran yang mengenai seseorang tanpa boleh dielakkan atau disedari. Tersentuh dengan kekotoran walaupun secara tidak sengaja masih berdosa, boleh dihukum. Ini boleh berlaku walaupun di dalam suluk, misalnya melalui keperluan tubuh badan. Nabi s.a.w bersabda, “Jaga-jaga dari najis – walaupun ketika kamu kencing, satu titik tidak mengenai kamu – kerana ia adalah keseksaan di dalam kubur”. Setiap rakaat, selepas membaca al-Faatihah bacakan surah al-Kausar tujuh kali.

Satu lagi sembahyang – panjang, walaupun empat rakaat – harus dilakukan dalam satu hari semasa khalwat atau suluk. Ini adalah sembahyang tasbih – sembahyang penyucian atau pemujaan. Jika seseorang itu mengikuti mazhab Hanafi dia melakukannya empat rakaat satu salam. Jika dia berfahaman Syafi'e dilakukannya dua rakaat satu salam, dua kali. Ini jika dilakukan di siang hari. Jika dilakukan malam hari Hanafi dan Syafi'e sependapat, dua rakaat satu salam, dua kali.

Nabi s.a.w memberitahu mengenai sembahyang ini kepada bapa saudara baginda, Ibnu Abbas, “Wahai bapa saudaraku yang ku kasihi. Ingatlah aku akan berikan kepada kamu satu pemberian. Perhatikanlah aku akan Sampaikan kepada kamu satu yang sangat baik. Ingatlah aku akan berikan kepada kamu kehidupan dan harapan baharu. Ingatlah aku akan berikan kepada kamu sesuatu yang bernilai sepuluh daripada perbuatan-perbuatan yang baik. Jika kamu kerjakan apa yang aku beritahu dan ajarkan kepada kamu Allah akan ampunkan dosa-dosa kamu yang lalu dan yang akan datang, yang lama dan yang baharu, yang kecil dan yang besar. Lakukan secara diketahui atau tidak diketahui, secara tersembunyi atau terbuka”. “Engkau kerjakan sembahyang empat rakaat. Pada tiap-tiap rakaat selepas al-Faatihah kamu bacakan satu surah dari Quran. Ketika kamu berdiri bacakan lima belas kali: Subhana Llahi il-hamdu li-Llahi la ilaha illa Llahu wa-Llahu akbar, wa-la hawla wa-la quwwata illa billahil l-‘Ali I-‘Azim. Bila kamu rukuk, tangan di atas lutut, bacakan sepuluh kali. Ketika berdiri ulanginya sepuluh kali lagi. Ketika kamu sujud bacakan sepuluh kali. Bila kamu bangun dari sujud bacakan sepuluh kali. Ketika duduk bacakan sepuluh kali. Sujud semula bacakan sepuluh kali. Duduk semula bacakan sepuluh kali. Kemudian bangun untuk rakaat kedua. Lakukan serupa untuk rakaat yang lain sehingga empat rakaat”. “Jika kamu mampu lakukan sembahyang ini setiap hari. Jika tidak lakukan sekali sebulan. Jika tidak mampu juga lakukan sekali setahun. Jika masih tidak mampu lakukan sekali seumur hidup”.

Jadi, empat rakaat itu tasbih diucapkan sebanyak tiga ratus kali. Sebagaimana Nabi s.a.w ajarkan kepada bapa saudara baginda Ibnu Abbas, dianjurkan juga kepada orang yang bersuluk melakukan sembahyang tersebut.

Selain daripada tugas tersebut orang yang di dalam suluk juga dianjurkan membaca Quran sekurang-kurangnya sebanyak 200 ayat sehari. Dia juga hendaklah mengingati Allah secara terus menerus dan menurut suasana rohani, samada menyebut nama-nama-Nya yang indah secara kuat atau senyap di dalam hati. Ingatan di dalam hati secara senyap hanya bermula bila hati kembali jaga dan hidup. Bahasa zikir ini adalah perkataan rahsia yang tersembunyi.

Setiap orang mengingati Allah menurut keupayaan masing-masing. Allah berfirman: “Hendaklah kamu sebut Dia sebagaimana Dia pimpin kamu”. (Surah al-Baqarah, ayat 198).

Ingatlah kepada-Nya menurut kemampuan kamu. Pada setiap tahap kerohanian ingatan itu berbeza-beza. Ia mempunyai satu nama lagi, ia mempunyai satu sifat lagi, satu cara lagi. Hanya orang yang ditahap itu tahu zikir yang sesuai.

Orang yang di dalam suluk juga dianjurkan membaca surah al-Ikhlas seratus kali sehari. Perlu juga membaca Selawat seratus kali sehari. Dia juga perlu membaca doa ini sebanyak seratus kali:
“Astaghfiru Llah al-‘Azim, la ilaha illa Huwa l-Hayy ul-Qayyum – mimma qaddamtu wa-ma akhkhartu wa-ma ‘alantu wa-ma asrartu wa-ma anta a'lamu bihi minni. Anta l-Muqaddimu wa-antal Muakhkhiru wa-anta ‘ala kulli syai in Qadir”.

Masa yang selebihnya setelah dilakukan ibadat-ibadat yang telah dinyatakan, gunakan untuk membaca Quran dan lain-lain pekerjaan ibadat.

Khalwat & Suluk

Sirrul Assrar dari Syeikh Abdul Qadir Jailani 23/27

23: PENGASINGAN DIRI DARI DUNIA DENGAN MEMASUKI KHALWAT DAN SULUK

Khalwat dan suluk harus dilihat secara zahir dan batin. Khalwat zahir ialah apabila seseorang mengambil keputusan untuk memisahkan dirinya daripada dunia, memencilkan dirinya di dalam satu ruang yang terpisah daripada orang ramai supaya manusia dan makhluk di dalam dunia selamat daripada kelakuan dan kewujudannya yang tidak diingini. Dia juga berharap agar dengan berbuat demikian sumber kepada kewujudan yang tidak diingini, egonya dan hawa nafsu badannya akan terpisah daripada bekalan hariannya dan terhenti juga segala yang memuaskan dan mengenyangkannya. Seterusnya dia berharap pengasingan itu akan mendidik egonya dan seleranya, memberi peluang kepada perkembangan diri rohaninya.

Bila seseorang memutuskan demikian niatnya mestilah ikhlas. Dalam satu segi dia seumpama meletakkan dirinya di dalam kubur, dalam keadaan mati, mengharapkan semata-mata keredaan Allah, berhasrat dalam hatinya melahirkan yang asli dan beriman, yang boleh lahir daripada kewujudannya yang hina ini. Nabi s.a.w bersabda, “Yang beriman adalah yang orang lain selamat daripada tangan dan lidahnya”.

Dia mengikat lidahnya dari berkata yang sia-sia kerana Nabi s.a.w bersabda, “Keselamatan manusia datang dari lidah dan kebinasaannya juga dari lidah” . Dia menutupkan matanya daripada yang diharamkan agar pandangannya yang khianat dan menipu daya tidak jatuh ke atas apa yang dimiliki oleh orang lain. Dia menutup telinganya dari mendengar pembohongan dan kejahatan, dan mengikat kakinya, membelenggunya dari pergi kepada dosa.

Nabi s.a.w bersabda menceritakan setiap anggota badan boleh melakukan dosa sendirian, “Mata boleh berzina” . Bila salah satu daripada pancaindera berdosa satu makhluk hitam yang hodoh diciptakan daripadanya dan pada hari pembalasan ia menjadi saksi terhadap dosa yang kamu lakukan. Kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.

Tuhan memuji orang yang menghindarkan dirinya daripada kesalahan kerana yang demikian merupakan penyesalan yang sebenar, taubat yang kuat. “Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya, dan menegah diri daripada hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurga itu tempat kembalinya”. (Surah an-Naazi'aat, ayat 40 & 41).

Orang yang takutkan Tuhannya dan bertaubat, mengeluarkan kewujudannya yang hina daripada yang beriman dan mengeluarkan keburukannya daripada imannya, ditukarkan di dalam khalwatnya, sehingga jadilah ia jejaka tampan. Kewujudan yang elok ini menjadi khadam kepada penghuni syurga.

Mengasingkan diri adalah benteng menghalang musuh bagi dosa diri sendiri dan kesalahan. Di dalamnya, sendirian, seseorang terpelihara di dalam kesucian. Firman Allah: “Barangsiapa percaya akan pertemuan Tuhannya hendaklah ia kerjakan amal salih dan janganlah ia sekutukan seseorang jua dalam ibadat kepada Tuhannya”. (Surah al-Kahfi, ayat 110).

Semua yang diceritakan hingga kini adalah maksud bagi suasana khalwat zahir. Maksud khalwat batin pula ialah mengeluarkan dari hati walaupun hanya memikirkan hal keduniaan, kejahatan dan ego, meninggalkan makan, minum. Harta, keluarga, isteri, anak-anak dan perhatian serta kasih sayang semuanya.

Anggapan orang lain melihat atau mendengar tentangnya jangan masuk kepada khalwat ini. Nabi s.a.w bersabda, “Kebesaran dan apa yang diburunya adalah bala, dan melarikan diri daripada kebesaran dan mengharapkan pujian orang dan apa yang dibawanya adalah keselamatan.” . Orang yang bercadang memasuki khalwat batin mestilah menutupi hatinya daripada kemegahan, sombong, takabur, marah, dengki, khianat dan yang seumpamanya. Jika sebarang perasaan yang demikian masuk kepadanya di dalam khalwatnya hatinya menjadi terikat. Ia tidak lagi terlepas daripada dunia dan khalwat demikian tidak berguna. Sekali kekotoran memasuki hati ia kehilangan kesuciannya dan semua kebaikan terbatal. “Apa yang kamu bawa itu sihir, sesungguhnya Allah akan membatalkannya (kerana) Allah itu tidak membaguskan amal orang-orang yang berbuat bencana” . (Surah Yunus, ayat 81).

Walaupun perbuatan seseorang itu kelihatan bagus pada pandangan orang lain, bila sifat-sifat buruk memasukinya, orang itu dianggap berlaku khianat dan menipu dirinya sendiri dan juga orang lain. Nabi s.a.w bersabda, “Sombong dan takabur mencemarkan iman. Fitnah dan umpatan lebih buruk dari dosa zina” . Juga, “Sebagaimana api membakar kayu dendam membakar dan menghapuskan perbuatan baik seseorang” . Juga, “Fitnah itu tidur, laknati ke atas siapa yang mengejutkannya” . Juga, “Orang yang bakhil tidak masuk syurga walaupun dia habiskan umurnya dengan ibadat” . Juga, “Kepura-puraan adalah bentuk sembunyi mengadakan sekutu bagi Tuhan” . Juga, “Syurga menolak orang yang menolak orang lain”.

Banyak lagi tanda-tanda sifat buruk yang dikutuk oleh Rasulullah s.a.w. Apa yang dinyatakan sudah memadai untuk menunjukkan kepada kita bahawa dunia ini adalah tempat yang memerlukan berterusan di dalam berhati-hati dan berwaspada, perlu berjalan melaluinya dengan penuh cermat dan perhatian. Matlamat pertama jalan kerohanian ialah menyucikan hati dan langkah untuk memperolehinya ialah membenteras keegoan dan keinginan hawa nafsu. Di dalam khalwat, dengan berdiam diri, bertafakur dan berzikir terus menerus, ego seseorang diperbaiki. Kemudian Allah Yang Maha Tinggi menjadikan hati seseorang itu bercahaya.

Tiada yang dilakukan di dalam khalwat secara perbuatan sendiri. Apa yang perlu ialah cinta, ikhlas dan keyakinan yang sebenar. Cara ini bukan cara orang tersebut sendiri. Dia menuruti cara para sahabat Rasulullah s.a.w, cara orang-orang yang mengikuti mereka dan cara orang yang mengetahui cara mereka dan mengikutinya.

Bila orang yang yakin berada pada jalan ini menurut jalan taubat, ilham dan menyucikan hatinya, Allah mencabut dari hatinya dan dirinya segala yang merosakkan dan yang keji dan melindunginya agar dia tidak kembali kepadanya. Wajahnya akan menjadi cantik; perasaannya, samada dipendamkan atau dizahirkan, menjadi tulen. Apa sahaja yang dia lakukan dilakukannya dengan cara yang terpuji kerana dia berada di dalam kehadiran Ilahi. “Allah mendengar orang yang memuji-Nya” . Jadi, Allah menjaganya. Allah menerima doanya, kerinduannya dan puji-pujiannya dan mengabulkan segala keinginannya. “Barangsiapa mahukan kemuliaan maka bagi Allah jualah semua kemuliaan. Kepada-Nya naik perkataan yang baik, amal yang salih itu Dia angkat” . (Surah Fatir, ayat 10).

Perkataan yang baik menyelamatkan lidah daripada perkataan yang sia-sia. Lidah adalah alat yang baik untuk memuji Tuhan, mengulangi nama-nama-Nya yang indah, memperakui keesaan-Nya. Allah memberi amaran terhadap perkataan yang sia-sia: “Tidak sekali-kali! Sesungguhnya yang demikian perkataan yang ia ucapkan padahal di belakang mereka satu dinding hingga hari mereka dibangkitkan (mereka tidak benar dalam perkataan mereka)”. (Surah Mukminuun, ayat 100).

Allah mengurniakan keampunan-Nya, kasihan belas-Nya kepada orang yang belajar dan mengamalkannya dengan niat yang baik. Dia membawanya hampir dengan membawanya kepada darjat yang lebih tinggi. Dia reda kepadanya, Dia maafkan kesalahannya.

Bila seseorang telah dinaikkan kepada darjat itu hatinya menjadi seperti laut. Bentuk dan warna laut itu tidak berubah kerana sedikit Kekejaman dan penganiayaan yang orang ramai Buangkan kepadanya. Nabi s.a.w bersabda, “Jadilah seperti laut yang tidak berubah, tetapi di dalamnya tentera gelap (ego) kamu akan lemas” , seperti Firaun lemas di dalam Laut Merah. Dalam lautan itu kapal agama timbul dengan selamat dan sejahtera, ia berlayar di dalam lautan yang luas itu. Roh orang yang di dalam khalwat terjun ke dasarnya untuk mendapatkan mutiara kebenaran, membawa ke permukaan mutiara kebijaksanaan (makrifat) dari batu karang budi pekerti dan menyebarkannya ke tempat yang jauh. Firman Allah: “ Keluar daripadanya mutiara dan marjan (batu karang)”. (Surah ar-Rahmaan, ayat 22).

Untuk memelihara lautan tersebut zahir kamu mestilah sama dengan batin kamu, diri kamu mestilah sama dengan apa yang kelihatan pada diri kamu. Suasana zahir dan suasana batin kamu mestilah satu. Bila ini terjadi, tiada lagi penipuan, hasutan atau kekacauan di dalam laut hati kamu. Tiada ribut nakal yang boleh memabukkan di dalam lautan yang tenang itu. Orang yang memperolehi suasana tersebut berada di dalam keadaan taubat sepenuhnya; ilmunya luas dan bermanfaat, perbuatannya semuanya adalah khidmat untuk orang lain, hatinya tidak mengalir kepada kejahatan. Jika dia tersilap atau lupa dia dimaafkan kerana dia ingat bila dia lupa dan bertaubat bila dia bersalah. Dia berada dalam kehampiran dengan Allah dan dirinya sendiri.

Zauk & Pelepasan Duniawi

Sirrul Assrar dari Syeikh Abdul Qadir Jailani 22/27

22: MENYAKSIKAN YANG HAK MELALUI SUASANA KEDAMAIAN YANG DATANG DARIPADA PELEPASAN SEGALA KEDUNIAAN DAN MELALUI ZAUK.

Nabi s.a.w bersabda, “Satu ilham Ilahi yang memutuskan seseorang daripada dunia ini dan kurniaan atas seseorang akan kenyataan atau cermin sifat-sifat Tuhan, menampakkan kepada seseorang keesaan Ilahi, lebih baik daripada pengalaman dunia dan akhirat” . Dan, “Orang yang tidak mengalami zauk (keghairahan) yang daripadanya menerima kenyataan makrifat Ilahi dan yang hak adalah tidak hidup”.

Banyak ayat-ayat dan hadis-hadis serta perkhabaran daripada wali-wali menceritakan suasana ini. “Dan apakah orang yang Allah luaskan dadanya kepada Islam, iaitu ia berjalan atas nur dari Tuhannya (sama dengan yang beku hatinya?). Maka kecelakaan (adalah) bagi mereka yang beku hatinya dari mengingat Allah. Mereka itu (adalah) dalam kesesatan yang nyata. Allah telah turunkan sebaik-baik perkataan, kitab yang sebahagiannya menyerupai sebahagiannya, yang diulang-ulangkan, yang seram lantarannya kulit-kulit badan orang yang takut kepada Tuhannya. Kemudian jadi lemas kulit-kulit mereka dan hati-hati mereka kepada mengingat Allah. Yang demikian itu pimpiman Tuhan, yang Ia pimpin dengannya siapa yang Ia kehendaki, dan barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tidaklah ada baginya sebarang pimpinan”. (Surah az-Zummar, ayat 22 & 23).

Junaid al-Baghdadi berkata, “Bila zauk (keghairahan) bertemu dengan kenyataan Ilahi di dalam diri seseorang, dia itu berada di dalam keadaan samada kelazatan yang amat sangat atau keharuman yang mendalam”.

Ada dua jenis zauk: zauk lahiriah dan zauk rohaniah. Zauk lahiriah adalah hasil daripada ego diri. Ia tidak memberi kepuasan secara rohaniah. Ia dipengaruhi oleh pancaindera. Sering kali ianya kepura-puraan, berlaku agar dilihat atau diketahui oleh orang lain. Zauk jenis ini tidak berharga sedikit pun kerana ianya disengajakan, dengan kehendak atau niat: orang yang mengalaminya masih merasakan yang dia boleh berbuat dan memilih (tidak ada fana padanya). Tidak guna menganggap penting pengalaman yang demikian.

Zauk kerohanian, Bagaimanapun, keseluruhannya berbeza, suasana yang dihasilkan oleh pengaliran tenaga kerohanian yang melimpah ruah. Secara biasa, pengaruh luar – seperti puisi yang indah yang dibaca, atau Quran dibaca dengan suara yang merdu, atau keghairahan yang dicetuskan oleh upacara zikir sufi – boleh mengakibatkan peningkatan kerohanian. Ini berlaku kerana pada ketika itu penentangan lahiriah seseorang dihapuskan, kehendak dan kekuatan akal untuk memilih diatasi. Bila kekuatan badan dan fikiran sudah dilemahkan suasana zauk adalah semata-mata bersifat kerohanian. Meneruskan perjalanan dengan pengalaman yang demikian sangat besar gunanya bagi seseorang. “Dan orang yang menjauhi berhala-hala daripada menyembahnya dan kembali kepada Allah adalah bagi mereka khabar yang menggirangkan. Oleh itu girangkanlah hamba-hamba-Ku. Yang mendengar perkataan lalu menurut yang sebaik-baiknya. Merekalah orang-orang yang dipimpin oleh Allah dan mereka itu ialah orang-orang yang mempunyai fikiran”. (Surah az-Zumar, ayat 17 & 18).

Nyanyian merdu burung-burung, keluhan pencinta, adalah sebahagian daripada penyebab luar yang menggerakkan tenaga kerohanian. Dalam suasana tenaga kerohanian yang demikian syaitan dan ego tidak boleh campur tangan; iblis bertindak di dalam alam kegelapan perbuatan-perbuatan yang muncul daripada ego diri dan tidak boleh berbuat apa-apa di dalam alam kemurahan dan keampunan yang bercahaya. Dalam alam kemurahan dan keampunan Allah, syaitan menjadi cair laksana garam di dalam air, sama seperti ia hilang apabila dibaca: “La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azim” – Tiada daya dan upaya melainkan dengan Allah Yang Maha Tinggi, Maha Mulia.

Pengaruh-pengaruh yang merangsangkan zauk kerohanian diterangkan oleh hadis, “Ayat-ayat Quran, puisi yang berhikmah dan ajaib mengenai cinta dan bunyi serta suara kerinduan menyalakan wajah roh”.

Zauk sebenar adalah hubungan cahaya dengan cahaya bila roh insan bertemu dengan cahaya Ilahi. Allah berfirman: “Yang suci untuk yang suci pula”. (Surah an-Nuur, ayat 26).

Jika zauk datang dari rangsangan ego dan syaitan tiada cahaya di sana . Di sana hanya ada kegelapan tanpa cahaya, ragu-ragu, penafian dan kekeliruan. Kegelapan menjadi bapa kepada kegelapan. Dalam bahagian roh dan jiwa, ego tidak ada bahagian. Firman Tuhan: “Yang tidak suci untuk yang tidak suci pula”. (Surah an-Nuur, ayat 26).

Penzahiran suasana zauk ada dua jenis: penzahiran zauk lahiriah yang bergantung kepada kehendak diri sendiri dan penzahiran zauk kerohanian yang di luar pilihan dan kehendak seseorang. Dalam kes pertama yang nyata ialah disengajakan. Jika seseorang menggeletar, bergoyang dan meraung walaupun bukan di bawah pengaruh kesakitan atau gangguan dalam tubuh, ia tidak dianggap sah. Apa yang sah ialah perubahan yang nyata pada keadaan lahiriah yang tidak disengajakan dan disebabkan oleh keadaan batin seseorang.

Penzahiran yang tidak disengajakan adalah akibat tenaga kerohanian yang tidak dapat dikawal oleh seseorang. Rohnya yang di dalam zauk mengatasi pancaindera. Ia adalah umpama keadaan meracau orang yang demam panas, agak tidak mungkin mencegah orang yang demikian daripada terketar-ketar, bergoyang dan menjadi kaku di dalam meracau itu kerana dia tidak ada kuasa terhadap penzahiran yang keluar atau berlaku kepadanya itu. Begitu juga bila tenaga kerohanian membesar sehingga mengalahkan kehendak, fikiran dan tubuh badan, zauk yang lahir daripada yang demikian adalah benar, jujur dan bersifat kerohanian. Keadaan zauk kerohanian yang demikian, yang di masuki oleh para sahabat akrab Allah di dalam melakukan pergerakan dan pusingan pada upacara mereka, adalah cara untuk menimbulkan keghairahan dan dorongan pada hati mereka. Ini adalah makanan bagi mereka yang mengasihi Allah; ia memberikan tenaga di dalam perjalanan mereka yang sukar dalam mencari yang hak. Nabi s.a.w bersabda, “Upacara keghairahan yang dilakukan oleh para pencinta Allah, tarian dan nyanyian mereka, merupakan kewajipan bagi sebahagian, dan bagi sebahagian yang lain adalah harus sementara bagi yang lain pula adalah bidaah. Ia adalah kewajipan bagi manusia yang sempurna, harus bagi kekasih Allah dan bagi yang lalai adalah bidaah” . Dan, “Adalah sifat yang tidak sihat bagi orang yang tidak merasa kelazatan berada bersama kekasih Allah: puisi orang arif yang mereka nyanyikan, musim bunga, warna dan keharuman bunga, burung dan nyanyiannya”.

Orang yang lalai, yang menganggapkan mencari zauk kerohanian sebagai bidaah, orang yang tidak sihat sifatnya yang tidak dapat menikmati kelazatan yang indah, adalah sakit dan tidak ada penawar untuk penyakit ini. Mereka lebih rendah daripada burung dan haiwan, lebih rendah daripada keldai, kerana haiwan juga menikmati irama. Bila Nabi Daud a.s melagukan suaranya burung-burung terbang di sekelilingnya untuk menikmati kemerduan suaranya. Nabi Daud a.s berkata, “Orang yang tidak mengalami keghairahan tidak dapat merasai agamanya”.

Terdapat sepuluh suasana zauk. Sebahagiannya ketara dan tanda-tandanya kelihatan kepada orang lain, seperti kesedaran rohani dan berzikir mengingati Allah dan membaca Quran dengan senyap. Menangis, merasai penyesalan yang mendalam, takutkan azab Allah, kerinduan dan kesayuan, malu terhadap kelalaian diri; apabila seseorang menjadi pucat atau mukanya berseri-seri kerana keghairahan daripada suasana dalaman dan kejadian di sekelilingnya, membara dengan kerinduan terhadap Allah – semua ini dan semua keganjilan pada lahiriah dan rohaniah yang dihasilkan oleh perkara-perkara tersebut adalah tanda-tanda zauk atau keghairahan.